Hide and Run!!

 

Author: CreaTed by Ca
Notes: “Aaa….KamiNeko >.<”

Lyrics taken from “Shizukana Yoru ni” Gundam Seed insert song by Tanaka Rie

“From when has my smile faded this much
Since it was shattered by one mistake
Change only the precious things into light and*
Go beyond the sky with fortitude.
To the place where stars fall,
I want my thoughts to reach you.
I am always by your side
Since I will embrace that coldness.
Even though we’re apart now,
We will definitely be back together”

“Lima nol nol digunakan sebagai kode ilmu murni atau eksakta, jangan sampai tertukar. Kode ini dipakai untuk membedakan jenis buku, dan berlaku di seluruh negara, mengerti?!”

Sora mengacungkan tangannya,

“Uhuk…interupsi…”

“Ya?”

“Memangnya ada berapa negara di Soul Society??”

Vodete menutup bukunya, “Ya..yah, maksudnya kode ini lazim di gunakan di dunia manusia dan bersifat universal, makanya kita juga meniru hal itu.”

“Baiklah…lalu jenis buku apa yang berkode 571?”

“Eh…” sambil sedikit menggaruk pipinya, “Aku tidak begitu tahu. Sora-kun sebaiknya kau istirahat saja lihat wajahmu merah begitu!” Vodete berusaha mengalihkan pembicaraan tentang kode penomoran buku.

“V-chan kenapa tidak tahu… 5 itu eksakta lalu 71 itu apa?”

Vodete mendekati Sora lalu memegang pipi anak itu dengan kencang agar ia berhenti bicara, “Kubilang istirahat saja”

Sora hanya terdiam, kemudian melepaskan tangan Vodete dari wajahnya. “Aku kan tidak sakit.”

“Tidak sakit apanya, lihat wajahmu merah begitu. Sini kuperiksa pasti panasnya lebih dari tiga puluh tujuh derajat celcius.”

“V-chan jangan sok tahu, aku lebih mengerti tentang kesehatan kan?”

“Tapi kebanyakan orang tidak mengakui bahwa dirinya sakit.”

Mau tidak mau, suka tidak suka Sora terpaksa mengikuti kemauan Vodete untuk memasukkan termometer ke dalam mulutnya,

“Piip..piip..piip..” termometer digital itu kemudian berbunyi. Vodete kemudian mencabutnya dari mulut Sora.

“He..kenapa termometer digital dimasukan ke mulut?” tanya Sora.

“Katanya bisa lebih akurat,” jawab Vodete sembarangan, namun ia lantas terdiam begitu melihat angka yang tertera pada termometer itu, ‘39.5’. “Sora!!! Kau demam!!!” ia berteriak lantang di dalam ruangan perpustakaan. Serentak beberapa orang yang ada di sana melihat ke arahnya.

“Tapi aku tidak merasakannya…” Sora meraba-raba dahinya sendiri.

“Ah, sudahlah, sekarang kuantar ke divisimu … seharusnya kau lebih memperhatikan dirimu sendiri!!” dengan gerakan super cepat kemudian Vodete menarik Sora berdiri dari tempat duduknya menuju pintu keluar.

Sora terpaksa ikut berjalan cepat karena tangannya tertarik. Namun baru saja beberapa langkah, keduanya lantas berhenti.

“Yo!”

Seseorang yang Vodete kenal, begitu pula dengan Sora tersenyum ramah menghentikan langkah kaki keduanya. Spontan, Sora segera bersembunyi di belakan Vodete dan memasang tampang muram seperti biasa jika mereka bertemu.

“Ah, Ryuuki-san. Tumben anda ke sini?” tanya Vodete sekedar basa-basi.

“Hanya sedang berpatroli, dan sedikit keperluan…”

“Um…baiklah. Saya permisi dulu, sepertinya kesehatan Sora sedang tidak baik jadi saya harus mengantarnya kembali ke yonbantai.”

Tidak seperti dugaan Vodete, Ryuu malah berteriak histeris setelah mendengar itu, “Sakit? Sora kau sakit, apa yang sakit, beri tahu aku…” ia mulai mendekati Sora yang masih saja bersembunyi di belakang Vodete. “Vodete-san, biar saya saja yang mengantarnya pulang…” Ryuu mulai bertingkah aneh, dari matanya saja ketahuan bahwa ia sedang merencanakan sesuatu.

“Tidak!!” tiba-tiba saja Sora berteriak keras –tepat di samping telinga Vodete. “Aku tidak mau kembali jika Ryuu-sama yang antar!!”

“Ah, bagaimana kalau sebentar saja, aku ingin berbicara denganmu…” pinta Ryuu sambil mengacung-acungkan tangannya.

Vodete yang tahu keadaan psikologis Sora kemudian menjadi penengah dalam masalah itu. “Maaf Ryuu -san, sepertinya keadaan Sora memang sedang tidak baik jadi…”

Kata-kata Vodete terpotong dengan rayuan dari Ryuu, “Ayolah…Vodete-san anda jangan seperti seorang ibu yang melindungi anak gadis anda begitu …”

“Ibu,… dan anak gadis?!!!” Vodete tersentak dengan kata-kata Ryuu barusan. “Anda jangan berkata seperti itu, saya bukan ibu anak ini…”

“Tapi kelihatannya begitu.” Ryuu masih berusaha merayu-rayu,… “Ya sudah kalau tidak boleh dengan anaknya aku berbicara dengan ibunya saja, bagaimana?”

“Selamat siang,” kemudian datang satu orang lagi. “Wah, ramai sekali…sepertinya sedang ada pertemuan keluarga.” Orang itu adalah Ariake Hiyo.

“Pertemuan keluarga bagaimana Ariake-san?” tanya Vodete yang ‘seakan’ kaget dengan perumpamaan yang Hiyo katakan.

“Ya jelaskan, seorang ibu, yang berusaha melindungi anak gadisnya dari seorang penyamun,” dengan nada bicara datar Hiyo menjelaskan segalanya.

Sora hanya terdiam –karena tidak mengerti, sementara Ryuu hanya senyum-senyum sendiri tidak karuan.

“Ba..baiklah, apapun yang anda berdua katakan.” Nampaknya Vodete menyerah dengan panggilan ‘ibu’ padanya dan Sora yang dipanggil sebagai ‘anak gadis’nya. “Ryuuki-san jika anda ingin berbicara, mari saya temani. Dan, maaf Ariake-san bisakah anda menjaga Sora sebentar saja sampai saya kembali?”

Rencana Vodete disetujui. Ia dan Ryuu berbicara di halaman luar perpustakaan, sedangkan Hiyo dan Sora di dalam ruangan entah sedang melakukan apa.

“Jadi,… anda ingin berbicara tentang apa?” tanya Vodete berusaha mengatur nafasnya (karena terengah-engah sejak pembicaraan sebelumnya)

“Em…tidak banyak, saya ingin bertanya satu hal, apa hubungan anda dengan Sora, dan…” ia berhenti sejenak, “Mengapa kalian bisa seakrab itu?!” nada bicaranya agak mengeras sedikit.

Vodete lantas segera menyumpal mulut Ryuu dengan roti yang ada di hadapannya. “To..tolong sabar…” ia tercengang melihat tingkah Ryuu yang tidak biasanya.

“Ehm, saya hanya senpainya sewaktu di akademi. Dan karena –mungkin, ia rasa kami memiliki banyak kesamaan jadinya anak itu selalu menempel pada saya. Memangnya ada masalah dengan itu?”

Begitu melirik Ryuu untuk mengetahui tanggapannya lagi-lagi Vodete terkaget, dengan tatapan super menyeramkan Ryuu menggigit-gigit Roti –yang tadi menyumpal mulutnya. “Aku iri!!” ucapnya dengan keras. Dan lagi-lagi Vodete menyumpal mulutnya dengan roti lainnya.

“I..iri, anda iri dengan apa??” kini seribu tanda tanya hinggap di kepala Vodete, ia berpikir tentang hal **piip** “Ja..jangan-jangan kalian?”

“Iya benar..” Ryuu menjawab seenaknya tanpa tahu apa pertanyaannya. “Padahal aku sudah bersusah payah selama ini, tapi ternyata Sora memilih orang lain untuk menjadi ….”

Untuk menghentikan bicaranya lagi-lagi sumpalan Roti hinggap di mulut Ryuu. “Apa ini pembicaraan yang bersifat pribadi?” tanya Vodete untuk memastikan apa yang dipikirkannya.

Ryuu melepas sumpalan roti di mulutnya, “Ah, kurasa tidak juga…” ia menjawab dengan sangat enteng. “Ah, Vodete-san, apa anda berpikir yang macam-macam?”

“Macam-macam?” Vodete mengulang pertanyaannya.

“Kenapa anda membaca buku itu Hiyo-san?” tanya Sora sambil mengayun-ayunkan kaki dan memiringkan kepala seperti anak kecil.

“Eng…karena isinya menarik mungkin,” jawab Hiyo kemudian mengambil buku lainnya.

“Kalau sudah dibaca lalu bukunya diapakan?”

“Tentu dikembalikan ke perpustakaan bukan?”

“Oh…” Sora hanya bergumam, ia lalu mengambil buku cerita bergambar lainnya.

Hiyo mungkin agak sedikit tercengang dengan tingkah Sora yang amat-sangat kekanak-kanakan. Ia lalu menawarkan bacaan lainnya, “Bagaimana dengan buku psikologis? Ini bisa membuat kita lebih mengenal diri kita dan orang lain.”

“Aku tidak mengerti, buku seperti itu terlalu banyak tulisannya,” komentar Sora sambil tetap asik membaca buku bergambarnya.

“Ah…mereka lama sekali, aku merasa jadi seorang baby sitter sekarang,” Hiyo bergumam di dalam hati.

Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu “Gruduk..gruduk…ngao..”

“Ha, apa itu?” tanya Sora yang langsung tanggap.

“Bunyi?” Hiyo mencoba menajamkan pendengarannya. Namun ia segera terkejut dengan arah tangan Sora yang menunjuk sesuatu tidak jauh dari tempat mereka berada.

“Si Meong!!!”

“A..ah, maaf aku sudah salah kaprah mengenai hubungan anda berdua.” Vodete tersipu sendiri setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Sora sendiri selalu tutup mulut jika kutanya, jadi yah kuduga ada kelainan pada diri anda.”

“Tidak masalah, kebanyakan orang memang menyangka begitu.” Ryuu kemudian menyeruput kembali teh di cangkir yang ada di hadapannya. “Wah, sayang sekali, kita tidak dapat berbicara lebih banyak. Aku harus lanjut patroli. Terima kasih sudah meluangkan waktu anda, biar makanannya aku yang bayar.”

Ryuu kemudian pergi menghilang setelah banyak bercerita. “Ah, aku harus segera kembali. Ariake-san pasti sangat kerepotan.” Ucap Vodete dalam hati kemudian bergegas kembali ke dalam perpustakaan.

“Maaf, menunggu lama…”

“V-chan tutup pintunya, jangam biarkan ia lari!!” Sora memberi instruksi aneh. Terlihat ia naik ke atas meja dan Hiyo memegang sapu sebagai pengganti senjata tidak jauh darinya.

“I..ia siapa?” Vodete bertanya-tanya karena suasana perpustakaan jadi lain dari biasanya.

“Si meong!!” teriak Sora keras. Ia lalu turun dari meja, namun karena tersangkut hakamanya yang panjang Sora terjatuh mendarat tidak sempurna dari atas meja. “Sakit…” ucapnya sambil memegangi hidung yang membentur lantai dengan sempurna.

“A..a..Sora-kun kau baik-baik saja?” baru saja Vodete akan mendekati Sora, tiba-tiba sesuatu yang empuk mendarat di atas kepalanya kemudian pergi.

“Awas kau!” dengan sangat sigap Hiyo mengayunkan sapu di tangannya ke arah si meong yang Sora cari. Namun karena salah perhitungan, ujung sapunya malah mendarat di belakang kepala Vodete. Vodete yang tidak bisa mengatur keseimbangan lalu terjatuh menimpa Sora, dan tentu Hiyo ikut terjatuh karena Vodete tanpa sengaja menarik tangannya.

“A..V-chan, Hiyo-san,…kalian berat sekali…” Sora mengeluhkan keadaannya yang terhimpit di paling bawah. Sementara Vodete dan Hiyo tidak dapat bergerak.

Beberapa menit saling menindih barulah ketiganya dapat kembali berdiri. “A..aduh sepertinya aku harus minta urut ke yonbantai,” keluh Hiyo sambil memegangi pinggangnya.

“Sora, sebenarnya siapa simeon yang kau cari itu?” tanya Vodete.

“Si Meong,…” Sora memasang tatapannya ke seluruh penjuru ruangan. “Ah itu!” ia lalu menunjuk tumpukkan buku yang di atasnya terdapat seekor kucing belang cokelat melambai-lambaikan ekornya.

“A…!! Kucing, kenapa ada kucing di sini?” Vodete semakin bingung.

“Ayo V-chan tangkap si meong!” Sora menarik Vodete sambil memberikan gagang sapu padanya.

“Hey..hey, tunggu dulu, kita bisa menghancurkan semuanya…” ucap Vodete lagi sebelum Sora mendorongya lebih jauh.

“Tapi jika tidak ditangkap ia bisa berbuat lebih onar…” tiba-tiba saja Hiyo mengangkat zanpakutounya berdiri di jajaran paling depan.

“Meong…lari, Hiyo-san mau mencincangmu dan menjadikannya makan malam!!” Sora berteriak dengan lantang –sambil pasang tampang datar, begitu melihat Hiyo akan beraksi.

Kucing belang itu lantas segera berlari, sekuat tenaga Hiyo, Vodete dan tentu Sora –yang hanya ikut-ikutan, berlari mengejarnya.

“Kenapa kita melakukan ini?” Vodete terus bertanya.

“Itu di sana, Meong ayo lari!!” bukannya menangkap, ternyata Sora hanya membiarkan Hiyo dan Vodete main kejar-kejaran dengan kucing itu.

Tiba-tiba saja lagi, pintu perpustakaan terbuka.

“Yo, sepertinya aku meninggalkan sesuatu!” Ryuu muncul di muka pintu, tepat di mana si kucing berlari dan menghantam wajahnya.

Sementara Hiyo dan Vodete lagi-lagi terjatuh dan menubruk Ryuu yang ada di hadapan mereka. Ketiganya terjatuh, sementara kucing itu kembali lari ke pangkuan Sora –yang lari paling belakang.

“Meong,… kau selamat… mereka tidak akan memakanmu kok…” seakan tidak terjadi apa-apa dengan santainya Sora malah lanjut bermain dengan kucing itu tanpa mempedulikan keadaan Vodete dan yang lain.

“Kenapa tidak?”

“Tidak bisa, kita tidak mungkin memelihara kucing di perpustakaan!” lagi-lagi nasihat dari Vodete yang Sora terima hari itu.

“Kalau begitu aku pelihara di kamarku saja?”

“Tidak bisa. Seorang prajurit tidak boleh memelihara binatang!”

“Ah…” Sora menunjukkan wajah kecewanya. Sementara Hiyo dan Ryuu terpaksa membantu Vodete membereskan perpustakaan yang berantakan.

Akhirnya Sora terduduk dengan wajah muram tanpa membantu melakukan apa-apa, dan si meong malah mengacaukan acara bersih-bersih.

“Anda harus melakukan sesuatu,” ujar Hiyo pada Vodete ketika keduanya memandang Sora dan kucing itu bergantian.

“Yah baiklah,” Vodete mendekati Sora lalu memberikannya uang beberapa lembar. “Belilah makanan untuk kami, dan bawa kucingnya juga. Aku tetap tidak mengizinkanmu memeliharanya, tapi berterima kasihlah pada simeon karena berkat dia demammu jadi turun.”

“Si Meong, namanya si meong!” Sora membenarkan. Ia lalu mengambil uang dari Vodete dan menggendong kucingnya pergi meninggalkan ruangan itu.

Hiyo mengelap keringat di dahinya, “Dengan begini kita bisa bekerja lebih cepat.”

“Anak-anak itu merepotkan sekali yah.” Komentar Vodete sambil membereskan buku-buku yang berserakan.

“Tapi dengan kucing itu Sora tampak lebih manis kan…” tiba-tiba saja Ryuu bergumam sendiri.

“Su..sudah kuduga anda memang ada kelainan Ryuuki-san…”

Ketiganya lalu melanjutkan beres-beresnya.

“Mawaru…mawaru…neko-chan…” Sora bersenandung aneh dalam perjalanan. “Kita beli apa ya untuk mereka…em…”

“Ngao…” si meong hanya menguap kemudian menyandarkan kepalanya di badan Sora yang hangat.

“Kappa-maki lagi kah? Aku belum pernah memakannya…”

Dan keesokan harinya.

“Sora!!! Apa ini, kenapa simeon ada di sini?!” Vodete berteriak dengan lantang ketika ia menemukan kucing yang kemarin tertidur di salah satu rak buku.

“Sst…si meong sedang tidur.” Sora menutup mulut Vodete dengan tangannya. “Aku tidak tega membuangnya, jadi kusimpan saja di sini. Tidak apa kan?” ia memasang wajah innocent nya di hadapan Vodete.

“Tatapan seperti itu tidak mempan padaku!!”

“V-chan jangan pelit begitu…”

“Ayo buang kucingnya!!”

“Kasihan kalau dibuang…”

“Pokoknya jangan ada di perpustakaan!!”

Keduanya terus berdebat, sementara pengunjung yang lain seakan tidak terganggu terus melakukan aktivitas masing-masing.

Si meong hanya menguap lebar, mungkin ia hanya berkata,… “Berisik sekali mereka!”

END

.:This fanfiction based from Roleplay Juusanshidan Gotei 13

Published in: on January 28, 2008 at 6:20 am Comments (2)

The URI to TrackBack this entry is: http://osakaontheroad.wordpress.com/2008/01/28/hide-and-run/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 Comments Leave a comment.

  1. XDDDDDDDDDDDDDDDD

    Waduh… Si Meong dan Simeon… memang keduanya terdengar sangat mirip…

    Wah, kenapa nggak dipost saja di forum Gotei?! XD

  2. hm…gimana ya… ca g terlalu PD buat publikasi lebih lanjut ^^ jadi silakan yang mau saja yang baca *mungkin nanti

    si meong kan emang diambil dari nama kucingnya si sacch simeon haha ^^… simeon lucu tapi asma ca jadi kambuh gara2 dya BT


Leave a Comment