
Author: CreaTed by Ca
Notes: “Na,…let us tell you a story”
Lyrics taken from Asterisk Bleach Theme song by Orange Range
“Rays of light from the stars in the night sky above
send a plea from across the ages
with colours that haven’t faded
It’s somebody’s cry, reflected in those sparkling eyes
A wish carried on the wind, a request from the moon
to live as fully as possible, day by day
So that our wishes, too, will be in someone’s heart someday,
let’s shine on like that star”
Ngao,,…. Si Meong menguap lebar di atas tumpukan buku setelah beberapa hari sebelumnya Sora menaruh kucing belang itu di perpustakaan ‘tanpa izin siapapun’.
“Main katamu?!” Vodete tercengang –untuk yang kesekian kalinya, ketika mendengar ucapan Sora. “Ba, baiklah tapi di perpustakaan begini mau main apa?”
“Aku pernah melihatnya, anak-anak di rukongai memainkan ini juga,” Sora berusaha menjelaskan sambil menatap Vodete dengan tampang innocentnya.
“Iya tapi apa, petak umpet? Kucing-kucingan? Atau apa?” Vodete terus bertanya-tanya.
Kemudian Sora mengangkat sebuah buku bertulisakan ‘Psikologi untuk Anak agar Mengerti Keadaan Orang Tuanya’.
“Dari mana kau mendapatkan buku seperti ini?”
“Hiyo-san meminjamkannya kemarin. Katanya aku baca itu saja.”
“Lalu permainannya? Memangnya buku ini mengajarkan apa sih?”
“Halaman seratus enam puluh sembilan, agar anak mengerti posisi orang tua,”
“Ha?!” cepat-cepat Vodete membuka halaman yang Sora katakan. Di awal judul bab nya terdapat tulisan besar ‘Permainan anak dalam lingkup keluarga’.
“Coba lihat yang nomor satu,” Sora menunjuk sesuatu di halaman itu. Sebuah judul sub bab bertuliskan ‘Permainan Rumah-Rumahan’. “Ayo main!” Sora menampakan senyum langkanya pada Vodete yang disambut keringat dingin dari senpainya itu.
…
“Tidak, kau pikir berapa umurmu mau bermain permainan semacam ini?” Vodete merapikan buku-buku yang berantakan karena Si Meong sambil tetap menggerutu berusaha menasehati Sora.
“Tapi aku belum pernah melakukannya…”
“Aku juga tidak pernah melakukannya, dan kurasa tidak semua orang harus kan!”
“Tapi aku ingin melakukannya…” Sora mulai merayu-rayu Vodete. Digenggamnya erat lengan kiri Vodete dengan kedua tangannya yang kecil. “He,hey apa-apaan ini??” ia lantas bertanya-tanya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Sora di lengannya.
“Tidak, pokoknya tidak akan kulepaskan sampai V-chan mau bermain denganku!”
“A..apa?!”
…
Stage 1:
Sora memegang buku yang dianggapnya sebagai ‘tutorial’ bermain rumah-rumahan. “Karena hanya ada dua pemain maka di sini perannya suami istri yah…” ia lalu menentukan peranan masing-masing. “Hm…aku yang jadi suaminya saja, V-chan kan pintar mengurus anak.”
Kaget dengan peranannya Vodete lantas memprotes, “Apa, tidak kau yang jadi istrinya, biar aku yang jadi suaminya.” Ia lalu mengambil ‘buku tutorial’ dari tangan Sora kemudian berjalan ke arah meja penuh tumpukan buku. “Sebagai suami aku akan bekerja. Jadi jangan ganggu pekerjaan suamimu, mengerti?!”
Sora terdiam, ia sendiri bingung memainkan peranannya, dan setahu dirinya seorang suami itu ya memang harus bekerja. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya.
“Silakan…” sebuah cangkir tanpa isi tiba-tiba saja diletakan di meja tempat Vodete membaca bukunya.
“Apa ini?” Vodete kebingungan melihat cangkir kosong yang disajikan Sora untuknya.
“Kopi untuk suamiku,” jawab Sora dengan polos. “Hm…biasanya pria dewasa kan tidak suka yang manis-manis jadi kubuatkan kopi saja. Bagaimana?” Sora mulai berperan menjadi istri yang baik.
“Dari mana kau belajar menyeduh kopi ‘pura-pura’ seperti itu?”
“Tayangan sinetron di tv-tv… Nah suamiku ayo diminum kopinya…”
Firasat Vodete semakin tidak enak saja melihat Sora bertingkah seperti itu namun masih dengan ekspresi datar di wajahnya. “Ah, sudah kubilangkan, jangan ganggu pekerjaanku!”
“Aku tahu, tapi kan istirahat perlu…”
“Ini bukan waktunya istirahat kau tahu?!”
Sora menggeleng, kemudian menarik cangkir kopi tanpa isi itu dari meja Vodete. Keadaan kemudian hening sesaat, Vodete bisa kembali membaca buku-bukunya. Tapi kemudian, “Tidak iri dengan tetangga sebelah?” tiba-tiba saja Sora bertanya.
“Iri, iri kenapa?” Vodete agak sedikit memiringkan kepalanya, seperti Sora yang sedang kebingungan.
“Mereka sudah punya anak loh…Bagaimana kalau kita juga?”
*GubRaKkk..*
“Mana mungkin!!!” Vodete berteriak dengan wajah agak tersipu. “Dengar ya, ini hanya permainan jadi biarkan aku memainkan perananku sesuka hati. Heuh, tidak mengerti juga ya??” darah tinggi Vodete sedikit terangkat, sedangkan Sora menunjukkan wajah mengkerutnya karena Vodete bersikap seperti itu.
“V-chan tidak pantas ah jadi suami yang baik. Bukannya setiap pria ingin punya anak?!” ucap Sora sambil menggerutu sendiri.
Ia lalu tergerak untuk memikirkan sesuatu…
…
Stage 2:
“Ah, lagi-lagi sepertinya perpustakaan ini tidak pernah sepi ya?” Hiyo muncul sambil menenteng 3 buah buku tebal yang kemudian diletakannya di salah satu meja di ruangan itu. “Jadi apa ada masalah lagi dengan Simeon?”
“Si Meong!!” Sora membenarkan, ia terduduk murung di sudut ruangan sambil bermain dengan Si meong.
“Ada apa lagi dengan anak itu?” tanya Hiyo lalu duduk di salah satu kursi yang bersebrangan dengan kursi yang diduduki oleh Vodete.
“Ini semua salah anda Ariake-san, mengapa merekomendasikan buku seperti ini pada Sora?” Vodete menunjukkan buku Psikologi untuk Anak yang beberapa hari lalu Hiyo rekomendasikan.
“Eh, memang kenapa?” Hiyo mengambil buku itu dari tangan Vodete.
Lalu tiba-tiba saja Sora memukul meja dengan keras, “Aku tahu!!” teriak Sora sama keras dengan pukulan tangannya di meja.
Vodete dan Hiyo sama-sama menunjukkan wajah penasaran mereka.
“V-chan tidak perlu jadi suami. Hiyo-san yang menjadi ayah, V-chan menjadi ibu dan aku anaknya!!”
“Apa?!!” Hiyo berteriak lantang.
“Itulah akibatnya, anda harus bertanggung jawab Ariake-san!” Vodete menepuk bahu Hiyo dengan aura ‘yang tidak mengenakan’ suasana perpustakaan di mata Hiyo dan Vodete nampak mencekam seperti kuburan namun di mata Sora tempat itu sudah seperti taman berhiaskan bunga.
“Jadi kita adalah keluarga Ariake yang bahagia. Ayah yang suka bekerja keras, ibu yang telaten dan anak yang baik hati.” Sora seakan sedang merinci jalan cerita dari permainan rumah-rumahannya.
Hiyo mengangkat tubuh dari kursinya, kemudian membawa beberapa buku. “Kalau begitu sebagai ayah aku akan bekerja di luar sana!” ia lalu melangkah dengan niat membiarkan Vodete bermain berdua saja dengan anaknya.
Namun baru beberapa langkah, “Tunggu suamiku, kau mau melarikan diri ya?” lagi-lagi Vodete memukul bahunya dari belakang dan menunjukkan wajah menyeramkannya.
“Ah, ini sudah mulai,… konflik keluarga pertengkaran suami istri!” Sora yang tiba-tiba ceria lalu seenaknya menyimpulkan keadaan saat itu.
“Diam!!” teriak Vodete dan Hiyo bersamaan.
…
Stage 3:
“V-chan bukannya seorang ibu harusnya bertanya ‘kalian mau makan apa malam ini’ begitu?” ucap Sora tegas mengingatkan Vodete untuk memainkan peranannya dengan baik.
…Sambil berusaha menahan darah tingginya Vodete tersenyum paksa “Baiklah…kalian mau makan apa malam ini?”
“Udon!” ucap Hiyo sambil mengacungkan tangannya sesaat.
“Ramen!” tambah Sora.
“Ah,… baiklah…” lalu dengan cara pura-pura Vodete meletakan dua buah kotak makan tak berisi ke hadapan Sora dan Hiyo.
Hiyo yang mengerti artinya ‘pura-pura’ kemudian ‘pura-pura’ juga memakan makanan ‘pura-pura’ yang ‘pura-pura’nya ada di dalamnya.
Tapi lain dengan Sora, “Apa ini… tidak ada isinya begini?!” tiba-tiba saja ia memprotes lain dengan kerjaannya tadi saat menyuguhkan kopi ‘pura-pura’ pada Vodete.
Vodete kebingungan menjawabnya, begitu juga Hiyo. “Bukankah tadi juga kau membuat kopi tanpa isi begini?!” protes Vodete.
“Itu kan tadi, lain dengan sekarang. Bagaimana aku bisa tumbuh jadi anak yang cerdas jika tidak diberi makan?!”
‘sabar…sabar…’ ucap Vodete dalam hati sambil mengepalkan tangannya dan senyum paksa yang selalu diperlihatkannya.
Kemudian datang satu orang korban lagi.
“Ah…ramai seperti biasa,” ucap Devani ketika memasuki gedung perpustakaan ‘maut’ itu. Ingin rasanya Vodete dan Hiyo tidak membiarkan Devani masuk, namun Sora sudah berdiri di hadapan shinigami wanita itu.
“Devani-san mau ikut main dengan kami?” tawar Sora.
Vodete dan Hiyo agak tercengang melihat tingkah Sora. Padahal jauh hari sebelum itu ia menjauhi Devani seakan membencinya.
“Main, sedang main apa kalian?” tanyanya dan tampaknya ia sedikit tertarik.
“Rumah-rumahan, aku jadi anaknya, Hiyo-san jadi ayah dan V-chan jadi ibu. Devani-san mau jadi apa?” tanya Sora kemudian.
“Eh??” Devani agak tercengang, ia memandang Vodete dan Hiyo bergantian. “Baiklah bagaimana dengan adik?”
“Tidak, aku adiknya. Devani-san jadi kakak saja!”
“Boleh juga…”
…
Stage 4:
“Onee-chan bisa ikatkan rambutku?” Sora memainkan rambut panjangnya di hadapan Devani.
“Ya, ya…baiklah..” Devani agak bingung dengan peranannya di sana. Ia lalu mengikatkan rambut Sora.
Tiba-tiba Vodete melewati keduanya, “Ap..apa yang kalian lakukan?”
“Mengikat rambut,” jawab Sora dengan polosnya.
“Hah?!”
“Kami kan kakak beradik perempuan…”
…
“Hah, sudah cukup hentikan,… permainan ini semakin membingungkan!” Hiyo mulai main protes. Ia duduk tidak tenang di kursinya.
“Ada apa dengan ayah?” Devani ikut menimpali.
“Aduh, Devani-san tolong jangan ikut-ikutan anak itu,…” keluh Hiyo sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
Sementara di sudut lainnya Sora dan Vodete asik berdebat.
“Aku masih ingin main!” bentak Sora.
“Permainan ini mengganggu kami, kamu mengerti?!”
“Mengganggu bagaimana? Aku sudah menidurkan si meong sehingga tidak berantakan!”
“Bukan itu masalahnya, tapi sadarlah tiap orang di sini punya keperluan yang berbeda-beda bukan hanya sekedar ikut permainanmu!”
“…” Sora terdiam sesaat. Ia memandang Vodete dengan tampang muramnya, kemudian pergi meninggalkan ruangan sambil membawa Si Meong yang masih tidur.
…
Final Stage:
“Susah sekali diatur anak itu!” keluh Vodete yang makin lama makin kesal dengan tingkah laku Sora.
“Apa tidak berlebihan?” tanya Hiyo yang agak khawatir.
Devani hanya bisa terduduk memandangi pintu keluar yang terbuka lebar, “Padahal kita baru main sebentar,” komentarnya.
“Ah, sudahlah nanti dia juga kembali,” Vodete berusaha mengusir rasa khawatirnya.
Namun tiba-tiba Devani berbicara, “Ryuuki-san bilang Sora-san memiliki masa kanak-kanak yang tidak begitu baik. Makanya ia suka bertingkah aneh dan seakan seperti anak kecil yang selalu ingin bermain. Sebagai orang dewasa yang tumbuh dengan baik, bukankah seharusnya kita menuntunnya agar lebih dewasa pula?”
Kata-kata Devani mungkin agak sedikit menyentuh batin Vodete, “Yah, kurasa kau benar Devani-san. Sora memang susah diatur, tapi yah… namanya juga anak-anak. Lagi pula ia berkembang pesat sudah mau berinteraksi dengan orang lain juga bagus…”
“Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Hiyo tiba-tiba.
“Mungkin mencarinya?” tanya Vodete juga.
“Tidak usah,” Devani berkata lagi. “Ryuuki-san juga cerita, layaknya anak-anak Sora-san pasti kembali jika ia membutuhkan sesuatu.”
…
5 jam berlalu.
“Apa ini tidak terlalu lama?” tanya Hiyo.
Devani hanya menggelengkan kepalanya semenata Vodete tetap memperhatikan pintu perpustakaan menunggu Sora kembali dari sana.
Kemudian sesosok shinigami dengan pakaian hitam dan rambut perak panjang berjalan terburu-buru memasuki ruangan.
“Akhirnya…datang juga…” ucap ketiga orang yang ada di situ berbarengan.
“Aku sudah memutuskan!!” tiba-tiba saja Sora berkata. Ia nampak terengah-engah karena sudah berjalan jauh di luar.
“Memutuskan apa?” tanya Vodete.
“Aku akan menikah! Dan memulai hidupku sendiri,”
*GuBRaKkk!!*
Belum sempat Vodete mencela apa-apa Sora berkata lagi, “Aku sudah memutuskan calonnya,… ini si meong. Aku yakin ia bisa jadi pasangan yang tepat.”
Vodete, Hiyo, dan Devani hanya bisa tercengang melihat tingkah kekanak-kanakan Sora yang tidak juga sembuh. Ternyata anak itu masih bermain rumah-rumahan bahkan ketika ia sedang di luar bersama kucingnya. Ketiganya nampak membatu sementara Sora asik bermain dengan *calon pengantinnya si Meong.
…
Sambil berjalan kembali menuju yonbantai Sora menggendong si Meong dengan kedua tangannya. “Jadi, nampaknya kita harus segera cari tempat tinggal baru, suamiku …”
“…Ngao…”
END
