
Author: CreaTed by Ca
Notes: “Ara…kazoku wa kazoku, deshou..”
Lyric taken from Super Duper Love Love Days Ost Card Captor Sakura
“The sky, which is always watching over and protecting us
was so blue that day; it was like I was finally aware of the air we breathe
Someday the super duper love love days will begin
I’ll keep eating and growing up and I’ll go after these feelings
I’m really still not in the habit of being brave enough to tell you how I’m feeling
From here, I wished our eyes could have met just a little bit”
14 Februari yang selalu ditunggu, silih berganti dari hari ke hari.
Namun jauh sebelum itu, 11 Februari.
“Jadi, apa hari varentin itu?” Sora bertanya dengan wajah polosnya seperti biasa pada Vodete yang kerap menjadi bahan gangguannya ketika mereka berada di perpustakaan.
“Eh, dari mana kau dapat kata-kata itu?”
“Selebaran ini terpasang di mana-mana kan?” Sora lalu memberikan sebuah poster berukuran A4 pada Vodete dengan 4 orang pria yang selalu menjadi tinjauan para wanita di seireitei. Poster itu dengan jelas memuat kata-kata ‘Gotei Host Club Valentine Event 2008’.
Vodete serentak kaget ketika diperlihatkan lembaran itu. “Acara apa ini? Ariake-san kau tahu sesuatu?” ia kemudian mengalihkan pembicaraan pada Hiyo yang tidak jauh dari sana.
“Hm, acara tahunan GHC mungkin.” Hiyo hanya menjawab pendek, tidak lepas dari buku yang dibacanya.
“Aku bisa baca Gotei Hosto Kurabu-nya tapi kata Varentin itu artinya apa?” Sora bertanya lagi sambil menarik-narik baju Vodete.
“Ah, bagaimana menjelaskannya yah. Ini seperti sebuah acara tahunan saja, layaknya festival tanabata. Dan pengucapannya bukan Varentin tapi Valentine.” Vodete menuliskan kata Valentine dalam katakana di selembar kertas. “Hari itu disebut sebagai hari kasih-sayang. Entah sih, aku tidak begitu mengerti, tapi di hari ini budayanya, setiap orang khususnya perempuan memberikan coklat pada seseorang atau pria yang disayanginya.”
Sora hanya manggut-manggut entah mengerti atau tidak. “Lalu, apakah V-chan juga akan memberikan coklat pada Hiyo-san?”
Mendengar pertanyaan itu Vodete hampir tersedak dengan air liurnya sendiri. “APA?! … Dengar ya, begini-begini aku masih normal, mengerti?”
“Tapi kan kita satu keluarga yang bahagia?” Sora mencoba mencari-cari alasan.
Lalu *Tuk! Hiyo mendaratkan bukunya pada kepala Sora dengan kecepatan yang aman.
“Permainan itu sudah lama berakhir kan?”
“Tidak!” elak Sora dengan cepat. “Walau Devani nee-chan sudah besar dan sudah berkeluarga, tapi kehidupanku dan Si Meong masih butuh bantuan kalian sebagai orang tua!!”
“Apa, apa yang kau bicarakan!” Vodete sedikit berteriak dengan wajah agak tersipu.
“Pokoknya, kalian harus tetap menjadi orang tuaku!!”
…
Lalu pada 12 Februari
*BraKk!!* beberapa tumpuk buku setebal batu-bata dijatuhkan keras dari atas meja.
“Aku tidak terima!!” Sora berkata lantang tanpa ada yang tahu penyebabnya. Semua orang di ruangan itu menatapnya, begitu pula dengan Vodete dan Hiyo yang sedang asik mengobrol.
“Tidak terima apa?” tanya Vodeta yang nampak agak kesal karena dikagetkan.
“Aku tidak terima kalau ibuku selingkuh!”
*DoooNg…
Kesabaran Vodete telah mencapai batas, jika tidak dicegah oleh Hiyo mungkin ia sudah mengamuk di perpustakaan itu dan memperlihatkan sisi lainnya.
“Apa maksudmu dengan ibu yang selingkuh, cukup sudah jangan main lagi!!”
“Kenapa marah padaku?!” Sora memprotes. “Harusnya kan ayah yang marah!” lanjutnya lagi.
Sora kemudian mendorong Hiyo mendekat, “Ayo, marahi jangan ragu!” ucapnya dengan nada berbisik.
“E..eh, apa maksudmu, kenapa aku harus marah? Memangnya Vodete-san selingkuh dengan siapa?” tanya Hiyo yang ikut kebingungan.
“Benar! Lagi pula kenapa harus dikatakan selingkuh?!” kini Vodete yang memprotes.
Sora menatap nanar pada Vodete, “Bukan hanya tidak memberi coklat, tapi juga berdua-duaan bersama orang lain…”
“Apa maksudmu, bersama siapa?!”
“Ryuu-sama bilang kemarin V-chan kencan dengan Kagura Fukutaichou-san,” jawab Sora yang nampak tidak begitu bersemangat ketika mengatakannya. “Jadi, mana pertanggung jawabanmu sebagai seorang ibu?!”
“Sudah kubilang hentikan permainan ini kan,” Vodete berusaha sabar. Ia lalu menarik napas sesaat untuk siap memberikan nasehat hariannya pada Sora. “Baiklah, kita bisa saja main rumah-rumahan, tapi jangan bawa masalah ini pada kejadian nyata. Ah,…sulit menjelaskannya. Ariake-san kau punya penjelasan yang lebih bisa Sora mengerti?” tiba-tiba saja Vodete melemparkan sesi nasehatnya pada Hiyo.
“Apa? Anda kira saya ini konsultan anak? Tidak-tidak, saran saya hanya satu, hentikan permainan ini dan kita kembali pada kehidupan yang lebih normal!” ucap Hiyo tegas.
“Setuju. … Ah, anda tahu buku yang bagus…” Pembicaraan Vodete dan Hiyo berubah drastis. Sora ditinggal sendiri sementara keduanya asik berbicara tentang buku, buku, dan buku.
Sora yang tidak tahan ditinggalkan seperti itu kemudian mengambil kucing belangnya Si Meong dan secepat kilat pergi dari ruangan perpustakaan.
…
“Aku menyerah pada anak-anak,” Vodete menghela napas sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
“Bicarakan saja, mungkin nanti akan ada permainan yang lebih menarik?” Hiyo mengacungkan sebuah buku, ‘lagi-lagi’ tentang psikologi anak.
“Dia bukan anak kecil lagi kan,” mata Vodete tertuju pada hamparan cahaya kemerahan di luar ruangan. “Nampaknya aku harus segera mencarinya,” lanjutnya lagi kemudian beranjak dari tempat itu.
…
“Kenapa lama sekali perginya?” akhirnya Vodete mendapati Sora yang terduduk bermain dengan kucing belangnya di bawah sebuah pohon rindang.
…Tidak ada yang Sora katakan, ia hanya memainkan batang ilalang yang disambut hangat oleh Si Meong.
“Jangan diam seperti itu lagi. Sudah kubilangkan katakan saja apa yang sedang kau rasakan?”
“K-chan,…” tiba-tiba sesuatu terucap dari mulut kecil Sora. “V-chan tidak lupa pada K-chan kan?” ‘K-chan’ yang dibicarakan Sora adalah seorang gadis yang ia dan Vodete kenal jelas ketika mereka sama-sama berada di akademi.
Vodete hanya tersenyum simpul, sebuah senyum sendu yang diperlihatkannya. “Kaguya-san, tentu aku tidak lupa padanya.”
“Aku lebih setuju jika V-chan bersama Hiyo-san saja.”
Mendengar kata-kata itu dahi Vodete sedikit merengut karena mencoba berpikir. Dalam hatinya: ‘semoga bukan lagi permainan rumah-rumahan itu’
“V-chan dan K-chan sudah seperti keluarga untukku. Aku anaknya, V-chan ayahnya, dan K-chan ibunya. Tapi semenjak lulus, semenjak K-chan sering pergi dinas keluar, kita jadi jarang berkumpul. Makanya begitu lihat Hiyo-san, kupikir bisa mengingatkan V-chan pada K-chan.”
Sora berbicara panjang lebar dengan nada sendu seakan hari sedang mendung. Sementara Vodete kerap memikirkannya, entah bayangan apa yang sedang menjalar di ingatannya. Semua ingatan tentang Kaguya Mai, sosok adik kelasnya yang dirasa tidak berbeda dari masa lalunya.
“K-chan pasti ingin memberikan coklat pada V-chan,” lamunan Vodete kembali disadarkan oleh suara Sora yang begitu nyaring di telinganya.
Namun ia hanya tersenyum seperti biasa, “Ayo pulang. Hari sudah sore, aku harus mengantarmu ke Yonbantai setelah menaruh Simeon di perpustakaan.”
Keduanya beranjak berdiri. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara selama perjalanan. Akan tetapi tiba-tiba Vodete berhenti berjalan. “Ku kira aku tidak bisa menggantikan sosok ibumu,” ucapnya. Sora terdiam hanya menunggu kata-kata selanjutnya yang akan Vodete katakan. “Tapi mungkin aku masih bisa menjadi kakakmu.”
… suasana hening kembali.
“Nee-chan,” Sora mengucapkan sesuatu.
“Hah?”
“Kalau begitu jadi V-neechan?”
“Apa?”
“V-chan, Nee-chan, bagaimana memanggilnya ya?”
“Bukan Nee-chan tapi Nii-chan!”
“Tapi aku mau jadi kakak-beradik perempuan yang bahagia…”
“Hentikan imajinasimu itu…”
…
“Kenapa aku harus ikut acara seperti itu?” Sora menarik lengan baju Vodete, meminta penjelasan.
“Karena aku ingin melihatmu bertindak seperti layaknya lelaki sejati, bukan seperti adik perempuan yang kau perankan kemarin.” Vodete menghela nafas, mengelus kepala Sora. Mereka berbicara mengenai selebaran poster GHC beberapa hari yang lalu.
Vodete sendiri bukanlah tipe orang yang antusias menyambut hari seperti itu.
“Lalu V-chan sendiri bagaimana?” Sora menarik lengan baju Vodete lebih keras.
“Eng… Aku akan menunggu laporan darimu, bukannya aku tidak mau ikut sih, tapi…”
“IKUT!!” teriak Sora, lengan baju Vodete pasti sudah benar-benar kusut.
Vodete menutup telinga kanannya dengan jari telunjuknya, “dengar ya, Sora-kun…”
“Aku tidak mau ikut kalau V-chan tidak ikut! Lagipula Hiyo-san juga mau ikut kok!” Kali ini Sora menunjuk Hiyo, yang sedang membaca buku di sebelah mereka.
“Hah..?” respon Hiyo pendek, mengangkat kepalanya dan menatap mereka berdua.
“Apakah itu benar, Ariake-san?” Tanya Vodete nyaris tidak percaya. Sora menatapnya dengan muka memelas.
“Eh, itu…” Hiyo menggaruk-garuk pipinya, berusaha menjawab, tapi tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulutnya.
“Kalau begitu kita bertiga akan ikut.” Vodete tersenyum, Sora melepaskan tangan Vodete, sedangkan Hiyo kembali tenggelam ke dalam buku tebalnya.
…
13 Februari
Si Meong berlarian dari satu tumpukkan buku ke buku lainnya, semua orang jelas sedang sibuk mempersiapkan event valentine mereka masing-masing. Namun yang dikerjakan dua ’kakak-beradik’ di perpustakaan itu hanya mengerjakan sesuatu yang biasa saja.
Vodete sibuk melamun, jauh entah apa yang ada di imajinasinya. Sedangkan Sora malah sibuk menenangkan Si Meong kucingnya yang nampak aneh hari itu.
“V-chan!!”
Seruan itu membuyarkan lamunan Vodete. Vodete menoleh ke arah Sora yang sedang berlari ke arahnya. Wajahnya diliputi kegelisahan yang luar biasa.
“Si Meong… Si Meong…” Kata Sora panik sambil mengangkat badan anak kucing itu agar Vodete bisa melihatnya lebih jelas.
“Ada apa dengan Simeon?” Tanya Vodete ikut-ikutan cemas.
“Tadi pagi aku mendapatinya sudah tidak bisa berlari lagi…” Ucap Sora lemas sambil menaruh Si Meong di lantai. Anak kucing itu masih sanggup berdiri, tapi kakinya pincang.
“Ah, gawat kalau begitu terus. Ayo Sora-kun, kita bawa dia ke dokter hewan. Di Seireitei memang tidak ada, makanya kita akan berjalan cukup jauh ke Rukongai, ayo!”
Sora menjawabnya dengan anggukan keras, kemudian ia mengikuti Vodete yang berjalan di depannya.
“Pasti ada seseorang yang memukulmu, Si Meong! Dia jahat sekali!” ujar Sora ngambek, lagaknya seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya saja.
“Padahal dari awal aku sudah memberitahumu untuk tidak memelihara binatang… Mulai sekarang kau harus bisa mengawasinya lebih baik lagi.” Vodete menghela nafas.
Tiba-tiba saja pandangannya teralih pada sebuah benda yang tertiup angin di kejauhan. Vodete memicingkan matanya untuk melihat benda yang semakin mendekat ke arahnya itu supaya lebih jelas; sampai akhirnya benda itu jatuh ke tanah tak jauh dari tempat ia berdiri.
Vodete menunduk mengambil benda itu; sebuah kartu yang ditujukan untuknya.
“Untuk Vodete-san,” Vodete membaca kalimat awal di kartu itu; tidak banyak yang memanggilnya dengan panggilan ‘Vodete-san’. “Terima kasih sudah membantuku…” ia melanjutkan membaca, dan sisanya ia baca dalam hati.
“Dari Naishinokami Kagura, Rokubantai Fukutaichou.” Adalah kalimat terakhir di kartu itu.
Vodete tersenyum, menatap kartu itu dan membayangkan wajah penulisnya pada waktu yang sama. Ia melipatnya kembali, dan menyimpannya baik-baik di balik bajunya.
“V-chan? Kenapa berhenti?” Sora berbalik dan menatap heran kepada Vodete.
“Ah, tidak apa-apa Sora-kun. Ayo pulang.” Vodete tersenyum dan memantapkan langkahnya.
“Apa itu??” Sora agak penasaran pada lembaran kertas yang Vodete pegang. “Ah!!” ia lalu bereaksi, “Surat cinta yah?!”
“Bukan…”
“Perlihatkan padaku!”
“Kubilang bukan…”
“Pokoknya aku lihat!”
“Tidak…”
“Ayolah, atau kulaporkan pada Hiyo-san!”
“Permainan itu sudah lama berakhir…”
“Tidak selama K-chan belum kembali!”
…
Dan 14 Februari
“Terima kasih…”
“Sankyu…”
Sora membuat banyak sekali coklat yang ia bagikan di sepanjang jalanan seireitei ke setiap Shinigami yang ia temui.
Namun langkahnya terhenti ketika di hadapannya berdiri sang kakak dengan wajah tersenyum mencurigakan.
“Tahukah kamu ini tanggal berapa?” tanya Vodete yang agak mencondongkan badannya pada Sora yang terus mengalihkan pandangan.
“U..um, empat belas?”
“Jadi tahukan ada apa hari ini?”
“Varentain yah seperti yang V-chan bilang kemarin…”
“Jangan lupakan eventnya juga, susah-susah aku mendaftarkanmu malah kabur begini…” dengan sedikit paksaan Vodete menyeret Sora menuju gedung utama GHC, namun sebelum itu Vodete menyeret Sora ke suatu tempat.
…
“Mungkin tidak usah pakai tuxedo juga bagus, masalahnya mana ada tuxedo bekasku yang cukup di badanmu yang kecil itu..”
Vodete nampak memakaikan kimono pria berwarna biru tua dengan corak dedaunan di bagian bawah plus haori berwarna putih yang kontras. Sementara Vodete siap dengan tuxedo ala era victorianya.
“Ini terlalu besar…” keluh Sora yang berjalan di samping Vodete persis seperti anak perempuan yang memakai kimono pria yang kebesaran.
“Kalau pakai tuxedo pasti lebih besar, jadi diamlah…”
“Bagaimana dengan membawa Si Meong?”
“Tidak, ayo percepat jalanmu kita sudah terlambat…”
“Ah…sepertinya aku sakit perut!”
“Tidak mungkin, kau kan ahli soal kesehatan dan gizi…”
“Bagaimana kalau kakiku terkilir?”
“Kita tidak mungkin berjalan saat ini…”
“Bagaimana kalau om-om GHC itu menyeramkan?”
“Mereka tidak menyeramkan…”
“Lalu apa yang akan terjadi di sana?”
“Tidak akan terjadi apapun…”
“V-chan….”
“Aku tidak akan mendengarkan alasanmu lagi..”
Sora berhenti berjalan, Vodete yang hampir menariknya kembali terkejut dengan sebuah kotak yang disodorkan oleh Sora.
“Untuk Vchan,…” Sora menaruh kotak berisi coklat berbentuk kucing itu di tangan Vodete.
“Aku juga buat untuk Hiyosan, Devanisan, um…siapa lagi yah…” sambil terus berjalan Sora berusaha tidak ingin melihat ekspresi Vodete.
Namun apa yang diharapkannya, semoga setiap hari akan bertambah orang yang bisa disayanginya, dan berakhirnya segala rasa takutnya untuk bisa mengenal orang lain.
…END…
