ENDLESS
Author: Created by Ca
Note: This fanfiction was made from roleplay Gotei Juusanshidan and spin off of some character. All story in this fanfiction is not become of real story divelopment, but just some spin off as said ‘As If in a Dream for some Never Ending Story’.
Lyrics taken from Endless Story, NANA Movie theme by Yuna Itou
“If you haven’t changed your mind
Then I want you by my side Tonight
I’m so tired of always having to bluff
Everytime I think about you baby, I feel so young
If I could just tell you I miss you
It’s so hard to say I’m sorry
Memories of our time together
this way, they don’t go away
Once I knew that the warmth between us had disappeared,
gentle tears started to spread over my chest
This is not where it ends, I’m missing you
please don’t let go of my hand
You see, I want to sing this song, not for just anyone
but just for you
An ENDLESS STORY that keeps on shining
Always, I wanna show you, forever and ever
You see, I wish I could sing this song, just for you
just one more time
An ENDLESS STORY of undying love
tell me why, please tell me, forever and ever”
…
PART I:
“Lepaskan aku!” itu entah yang keberapa kali aku membentaknya sambil menyingkirkan tangannya yang hampir menyentuhku. Kemudian aku pergi dan ia tetap mengejarku sambil kembali mengumbar janji-janji tidak masuk akal dan permintaan maaf yang tidak memberikan efek apapun pada kehidupanku selama ini.
Aku membencinya, sangat benci padanya. Hal itu adalah pikiran yang kutanamkan secara paksa di otakku agar aku tidak lagi mendekatinya. Namun yang terjadi, aku hanya takut, takut untuk dibenci lagi, takut untuk dibuang lagi, karena pada dasarnya akulah si pembuat kesalahan yang selalu patut untuk disalahkan.
Dan itulah yang memang terjadi. Di siang hari yang panas saat itu ibu kembali berhasil menorehkan luka baru di bahu kiriku melalui sebuah hantaman kotak obat berukuran besar, yang hampir saja membuat tanganku tidak akan bisa bergerak selamanya. Aku hanya bersandar di sebuah pohon tua di pekarangan rumah itu selagi para tamu datang memasuki gerbang dengan senyum tersungging lebar di tiap wajah yang ada. Kuperhatikan satu demi satu wajah-wajah yang ada. Hanya sepasang pria dan wanita tua yang berjalan tertunduk, kemudian di belakangnya seorang bocak –tepatnya- yang mungkin seumuran denganku berjalan membawa beberapa tumpuk bungkusan. Ia nampak mencolok dibandingkan ketiga anak perempuan yang jauh lebih muda dariku, yang berjalan di belakangnya.
Baru beberapa hari setelah itu aku sadar, kami berkenalan dengan cara yang sulit aku jelaskan kepada orang lain. Hanya sepatah dua patah kata yang kami ucapkan kemudian secara resmi kami menjadi teman baru yang saling berbagi setiap saat.
“Fuu Ryuuki, kau tahu itu apa artinya?”
Aku hanya memandangnya dengan sedikit keraguan, “Angin,…dan naga maksudnya?”
“Hanya karena memiliki tanda seperti naga yang melingkar-lingkar di tangan kananku, makanya aku memilih nama seperti itu.”
Kesanku tidak begitu menarik. Apa maksudnya dengan tanda naga yang melingkar-lingkar dengan perkenalan kami. Tapi yang kurasa, Ryuu-sama adalah orang yang cukup nyentrik dan sangat ramah. Bola matanya yang selalu menatap tajam padaku, dan rambut ungunya menampilkan kesan agung layaknya seorang bangsawan. Namun ia hanya anak angkat di keluarga pedagang yang nampaknya selalu hidup berkecukupan dengan bahagia. Akan tetapi hal yang paling membuatku merasa nyaman ‘saat itu’ ketika berada di dekatnya adalah perasaannya yang selalu tulus.
Pernah suatu hari aku mendengar percakapannya, satu hari di malam-malam panjangku ketika aku kembali berlari, kemudian Ryuu-sama dengan sigap segera menangkapku dan membuatku berbicara tentang kegilaan ibu dan kakak-kakakku hari itu.
“Apa untungnya kamu menampung anak seperti itu?”
“Untung? Aku tidak pernah berpikir tentang itu.”
“Merepotkan saja kau tahu. Lihatlah dirimu, sampai saat ini saja belum becus mengurus diri sendiri, apa yang mau kamu lakukan dengan anak orang lain!”
“Aku tidak peduli, aku juga cukup bisa mengurus diriku sendiri dan Sora tentunya!”
Perdebatan mereka berdua terdengar dengan jelas di telingaku. Saat itulah aku sadar betapa besarnya rasa tulus yang Ryuu-sama berikan padaku, ia tetap menampungku di dapur rumahnya setiap malam dan mengantarku kembali ke ‘rumah itu’ ketika hari hampir pagi.
Semua kebaikannya terekam jelas di ingatanku, bahkan ketika aku berusaha untuk membencinya. Hari demi hari harus bisa kulupakan dirinya dan terus mengukir rasa benci itu ‘di sini’ di dalam perasaanku. Suatu kali, ketika kami kembali bertemu, aku terpaksa marah besar padanya.
“Lepaskan aku, sudah kubilang kan?!” Ryuu-sama tetap menggenggam erat tanganku dengan tangannya yang besar dan kuat.
“Dengarkan aku dulu!”
Aku tetap berusaha pergi, namun ia memaksa aku mendengarkan penjelasannya. “Aku mau pergi, anda tidak berhak lagi menahanku!!” kutarik tanganku sekencang mungkin, namun pegangan tangannya malah semakin erat seakan sedang mencengkram dan akan mematahkan tanganku.
Baru ketika aku berteriak, “Sakit!” Ryuu-sama melepaskannya. Hampir saja aku terjatuh jika tidak dapat menjaga keseimbangan. Namun belum sepenuhnya sadar pada situasi selanjutnya, aku segera terkejut melihat Ryuu-sama membungkuk rendah di hadapanku, bahkan setengah bersimpuh. Tatapannya mungkin jatuh ke tanah saat itu.
“Hanya satu, aku hanya ingin maaf darimu, itu saja.”
Ia berkata tegas tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Aku berusaha berpikir apa yang akan aku lakukan saat seperti ini. Sedikit mengalihkan pembicaraan aku terus bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya tidak perlu aku katakan. “Maaf, maaf untuk apa?”
Ryuu-sama menengadahkan pandangannya. “Kenapa malah balik bertanya, tentu hal seperti itu tidak usah diungkit lagi kan? Atau kau merasa aku tidak bersalah, apa yang kulakukan tidak salah?”
Nada bicaranya berubah seakan sedang membela diri. Aku kira rasa tulus yang dimiliki oleh Ryuu-sama tidak pernah hilang, namun ia masih saja menganggapku sebagai penyebab tewas orang tua angkatnya.
“Salah, tidak salah…anda pikir anda tidak salah!!” emosiku memuncak tiap kali aku disalahkan untuk hal yang tahu saja aku tidak.
“Semua keputusan ada di tanganmu. Kau berhak menentukan aku salah atau tidak. Jika ya, salah, maka maafkan aku dan jika tidak, jangan terus bersikap dingin seperti itu!”
Aku kesal, memang sejak awal Ryuu-sama bukan tipe orang yang dapat percaya pada orang lain dengan mudah. Jika ia dikenal ramah dan selalu menjadi mood maker, maka yang ada di hadapanku adalah orang yang sama sekali tidak pernah menaruh rasa percayanya pada orang lain. Bahkan ketika ia meminta maaf sekalipun.
“Jika anda tidak salah, maka saya tidak akan ada di sini!… Jika anda tidak membuang saya dan membuat saya hampir mati, hampir dibunuh orang, hampir dicabuli, hampir menjadi sampah yang sama sekali tidak berguna? Anda masih merasa bahwa anda sama sekali tidak pernah salah?!”
Lagi-lagi sifat cengengku muncul. Karena kesal maka aku menangis, karena marah maka aku menangis juga, dan karena sedih aku terus menangis.
Kami tidak saling bicara setelahnya, aku berusaha menghentikan isak tangisku yang tiap malam tentu di dengarnya. Pertama kalinya aku bersikap seperti itu, membentak orang lain dengan tujuan yang sama sekali tidak aku pikirkan sebelumnya.
Kemudian Ryuu-sama bersimpuh di hadapanku, dahinya mungkin menyentuh tanah. Aku hanya melihat dari ketinggian di sini, di sudut mataku. “Maaf, maafkan aku. Aku sadar sepenuhnya aku yang bersalah. Aku tidak mengira akan terjadi banyak hal setelah kejadian itu, makanya aku mencarimu demi permintaan maaf ini…”
Nada bicaranya kembali berubah. Ini nada bicara orang yang kalah telak dalam pertempuran dan memohon-mohon meminta ampun agar tidak dibunuh. Aku mendinginkan otak, saat itu hanya satu baris kalimat yang dapat kuucapkan. “Ku maafkan. Tapi jangan pernah menemuiku lagi!”
Terakhirnya kami bertemu, aku yakin itu adalah yang terakhir kali setelah beberapa tahun kami berada di dalam lingkaran besar ini bersama-sama.
PART II:
Tidak terpikir olehku bahwa saat itu ada sebuah kabar yang menyebar dengan cepat. “Gaspadin Arc Taichou memberikan ini padaku..” pagi itu seorang kakak-kelas yang kupanggil dengan sebutan V-chan memberikan sesuatu padaku.
“Apa ini?” tanyaku yang tidak berani menyentuh benda berwarna kuning keemasan dengan helaian kain di sampingnya yang V-chan pegang.
“Semua ulahmu kan?”
“Ulah, ulah apa?” aku balik bertanya kemudian V-chan mendekatkan benda itu ke telapak tanganku. “Apa?”
“Kemarin malam, Gaspadin Fuu Fukutaichou secara tidak resmi mengundurkan diri dari posisinya.” Aku terkejut mendengar hal itu, maksudnya Ryuu-sama mengundurkan diri? “Tapi itu belum resmi, ia hanya menitipkan ini pada Arc Taichou untuk memberikannya padamu. Sekarang kasusnya sudah dibawa ke divisi 9 untuk diadili.”
Penjelasan V-chan cukup membuatku untuk terus bertanya-tanya, untuk apa Ryuu-sama melakukan ini semua. Untuk apa ia repot-repot mengundurkan diri dan menghilang selama beberapa hari dari seireitei.
Firasatku buruk setelah itu. Banyak kejadian yang mulai terjadi. Kasus graffiato merebak di mana-mana, tanpa seorang pun tahu, aku mengenal salah satu dari mereka.
Ia melingkarkan lengannya di bahuku, kemudian berbisik dengan suara pelan. “Apa yang terjadi, ayo cerita?”
Aku mengeluarkan badge divisi 7 yang Ryuu-sama titipkan padaku di hadapannya. Ia hanya merangkulku dari belakang tanpa ada komentar, hanya tertawa kecil seakan puas akan sesuatu. “Senang? Anda sudah senang sekarang?” kini aku yang balik bertanya.
“Tidak juga, cepat atau lambat kehancuran pasti akan terjadi. Terima kasih ya…”
“Apa tujuan kalian para graffiato sebenarnya?”
“Hm…” ia mengambil badge-nya dari tanganku kemudian mengayun-ayunkannya ke sana-ke mari tepat di sebelah wajahku. “Tidak tahu, aku hanya tertarik untuk bereksperimen.”
“Kalau begitu aku harus cepat pergi, atau V-chan akan menemukan kita di sini,” lanjutku berusaha melepaskan rangkulan tangannya.
“Shinigami, seorang pria Rusia berambut merah. Apakah sosoknya begitu mengingatkanmu padaku?” ia menarikku kembali mendekatinya.
“Saya tidak tahu siapa anda.”
“Tapi kita saling mengenal ya kan, otoutou-chan…”
Deniska Mikhailov, seorang graffiato yang berhasil menyusup ke soul society. Ia seorang pria Rusia agak berumur, berambut merah namun dengan tingkah yang menyebalkan. Bukan mengingatkanku pada V-chan, namun justru V-chan lah yang mengingatkanku pada sosoknya. Ritsuki nii-san, kakak laki-lakiku entah di mana itu. Nyatanya ia hanya seorang ilmuwan yang suka bereksperimen. Yang jelas pria ini terus mengaku akan banyak bercerita tentang kami jika aku mau berbagi informasi tentang seireitei padanya.
“Ritsuki nii-san, baiklah tapi anda tidak selembut V-chan,” lanjutku kemudian rangkulannya agak merenggang. “Sebagai sosok kakak, anda sama sekali tidak ada di bayanganku.”
Kami berpisah untuk hari itu, dan mungkin secara tiba-tiba ia bisa datang kapanpun untuk menemuiku.
V-chan nampak marah besar padaku. Ia terus mengungkit masalah Ryuu-sama di hadapanku, seolah akulah yang membuatnya menghilang bahkan menjadi sosok yang paling dicari saat itu. Aku memang terkesan tidak peduli, namun kukatakan hal itu pada Ritsuki nii-san –atau dialah yang mengaku dengan nama itu- agar ia bisa menemukan di mana Ryuu-sama berada saat itu.
“Ariake-san berkata, Fuu Fukutaichou sudah menjadi incaran divisi 6 saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian,” V-chan berkata penuh emosi karena ini bukan lagi masalah main rumah-rumahan atau apalah itu, tapi sudah menyangkut nyawa dan harga diri seorang shinigami yang ‘nampaknya’ telah kulecehkan begitu saja. “Apa, apakah susah untukmu memberikan maaf?”
“Aku sudah memberinya maaf,” ucapku tidak bersemangat.
“Baiklah, lalu mengapa seperti ini. Kau tahu akibatnya fatal?”
Aku lagi-lagi kesal, entah mengapa setelah kejadian itu emosiku mudah naik. “V-chan diam sajalah. Memangnya bisa V-chan memberikan maaf dengan mudah, bahkan pada orang yang telah membunuhmu?”
Ini pembicaraan lama kami, ketika aku bertanya tentang seseorang yang V-chan panggil dengan sebutan Vostok atau si angin, timur, atau apalah itu. Jawaban V-chan atas pertanyaanku hanya singkat, “Tidak usah tahu tentangnya, ia adalah orang jahat yang telah membunuhku.”
Lalu kini kukembalikan kata-kata itu padanya. Memangnya ada orang yang bisa memaafkan orang yang hampir saja membunuhnya, atau bahkan mungkin aku ingat bahwa di kehidupan sebelumnya kematianku disebabkan oleh seseorang yang sangat dekat denganku. V-chan hanya terdiam tidak bisa membalasnya. Kami saling terdiam beberapa saat, namun tidak ada percakapan main-main lagi setelah itu.
Bulan berganti bulan, aku terus menemui Ritsuki-san, ia memintaku untuk mencuri beberapa arsip dari divisi 5 semua arsip tentang seireitei dan shinigami. Aku melakukannya tanpa diketahui oleh siapapun, kemudian ia juga memintaku untuk mencari arsip kriminal di divisi 6.
Kali ini susah payah usahaku digagalkan. “Jangan lakukan itu, sudah selesai main petak umpetnya?” Hiyo-san memergokiku tepat ketika arsip itu ada di hadapanku.
Aku berlagak dingin walau sebenarnya takut. “Aku memang sudah selesai bermainnya,” ucapku kemudian mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Lalu apa maksudnya ini?” Hiyo-san bertanya lagi.
“Arsip, aku butuh arsip.”
“Untuk?”
“Mencari seseorang, aku membutuhkannya.”
“Aku mengerti, tapi tidak dapat kuberikan.”
Pertemuanku saat itu adalah pertemuan terakhir dengan Hiyo-san di pertengahan musim gugur yang sangat dingin itu. Aku pergi tanpa membawa arsipnya, dan tidak kuduga bahwa pertahanan seireitei dapat ditembus dengan mudah oleh salah satu kelompok graffiato.
Honoo Fukutaichou memberikan perintah dadakan kepada seluruh personel divisi 4 agar selalu siap di beberapa titik yang disiapkan jikalau terjadi pertempuran. Jumlah graffiato tidak seberapa namun ada di antara mereka yang dapat membuat pasukan baru.
“Mau melawan pasukanku?” itu adalah Ritsuki nii-san, ia menggunakan manifestasinya untuk membuat boneka tanah yang bergerak ke sana-ke mari dan membantai habis beberapa shinigami yang ditugaskan melindungi kami, para tim medis.
Aku berdiri di hadapannya seolah kami tidak saling mengenal, namun seketika nii-san membisikkan sesuatu, “Ada kejutan untukmu…” tidak sempat bertanya, aku melakukan Touki agar cepat sampai di tujuan.
Lalu, malam itu sebuah perang besar terjadi.
PART III:
Kami sibuk merawat shinigami yang terluka, juga penduduk rukongai yang ikut menjadi korban. Seluruh personel divisi 11 diturunkan dan penjagaan divisi 3 diperketat di seluruh gerbang pembatas seireitei sementara…seluruh personel divisi 7 bolak-balik mengantar penduduk sekitar yang menjadi korban dan mengadakan pengamanan di seluruh tempat di rukongai dan seireitei. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang kucari.
Seorang pria yang selalu tersenyum tulus, bahkan ketika seolah-olah aku mengusirnya. Di dalam barak-barak pengungsian, aku terpaksa berdoa, terus berdoa semoga ia akan baik-baik saja di manapun ia berada. Aku menggenggam badge dengan angka 7 dan lambang naga itu dengan erat si sela pekerjaanku yang memang tiada akirnya. Aku ingin ini segera berakhir, perang seperti ini tidak berbeda jauh dari tragedi daisenpaku yang sudah terjadi lama sekali. Akupun rasanya ingin kembali mengingat masa itu.
Aku terus berlari menelusuri gang dan jalan sempit untuk mengecoh perhatian para hollow liar yang berkeliaran. Tidak ada tempat, waktu itu darah tidak juga berhenti mengalir dari pelipisku. Tenagaku mungkin habis, namun yang dapat kulakukan hanya berlari,… terus berlari.
Lamunanku buyar ketika seseorang memanggil namaku, “Sora..Sora!!”
Aku kaget, itu ternyata adalah V-chan, langkahnya terengah-engah, wajahnya pucat seakan sesuatu telah terjadi.
“Apa, ada apa?” aku bertanya-tanya.
“Ayo, ikut aku.” Kami segera ber-shunpo secepat mungkin. Melewati bangunan demi bangunan yang tidak nampak lagi bentuknya.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” aku terus bertanya.
“Sesuatu,…sesuatu telah terjadi.” Pembicaraan ini menghentikan gerak kami sementara. “Kabarnya seorang ‘mantan’ fukutaichou sedang menghadang para graffiato di gerbang timur. Aku sendiri tidak tahu, tapi mungkin seorang graffiato berambut merah yang berbicara bahasa Rusia ingin aku membawamu ke sana.”
Graffiato berambut merah, yang berbicara dengan bahasa Rusia, “Ritsuki nii-san?” aku teringat padanya. Kali ini firasatku benar-benar buruk, sangat buruk. Apa, apa yang terjadi. Siapa ‘mantan’ fukutaichou itu? Ryuu-sama kah? Apa yang Ritsuki nii-san lakukan padanya?
Pikiranku semakin kacau. Tanpa instruksi dari V-chan aku melakukan shunpo dengan sangat cepat dan berkali-kali memakai Touki untuk mencapai tempat yang di maksudkan.
Saat itu yang kuingat adalah, langit mendung. Sama seperti aku, menunjukkan ketidak pastian pada apa yang akan terjadi nanti.
Aku terus berlari, di dalam hati aku hanya terus berkata, “Lari…lari…lari…” beberapa kali terjatuh karena jalanan licin akibat hujan pun aku tetap berdiri dan terus berlari. Entah mengapa baru saat itu saja aku merasa jarak dari gerbang ke gerbang lainnya sangat jauh. Bahkan beberapa kali melakukan Touki yang tidak pernah gagal saja aku merasa tidak akan pernah sampai di sana.
Hujan yang turun bertambah deras semakin memperlambat langkahku. V-chan jauh tertinggal di belakang setelah berkali-kali aku memakai Touki. Gerbang timur terlihat di depan mataku, tapi sebuah dentuman keras terjadi begitu aku mempercepat langkah. Pasir dan debu terpaksa ikut terangkat, kepulan asap putih tebal menyelimuti tempat itu, namun hanya satu hal yang bisa kudengar, suara benda terjatuh, nyaring…
Benda berbentuk kupu-kupu berwarna ungu seperti kristal, bentuknya sudah setengah hancur tapi aku merasa sangat mengenal benda ini. Benda yang jatuh begitu saja tepat di kakiki sesaat setelah dentuman itu terjadi. Aku mengambilnya selagi menunggu kepulan asap berhenti membumbung tinggi. Perasaanku semakin kacau balau ketika benda ini ada di genggaman tanganku, ‘Jangan…jangan bilang kalau…’
Aku terpaksa mengangkat pandanganku, asap-asap bekas dentuman tadi telah menyingkir dari pemandangan di hadapanku. Tapi, aku merasa tidak ingin berpikir saat itu. Semua yang ada di mataku berwarna merah, tanahnya, airnya, bahkan mungkin langitnya. Aku tidak kuasa bersuara ketika melihat hal itu, rasanya kakiku melemas, namun aku memberanikan diri untuk mendekatinya.
Ryuu-sama terbaring di atas tanah dengan suara napas yang tidak beraturan. Bisa kugambarkan mungkin saat itu, pemandangan super mengerikan yang pernah aku lihat. Di sekelilingnya hanya ada darah, darah, dan darah di mana-mana. Maka ku sebutkan semua yang ada di mataku berwarna merah. Aku terdiam sesaat sebelum benar-benar mendekatinya, tapi yang dilakukannya saat melihatku hanya kembali tersenyum.
“Ah, sepertinya aku sudah melanggar janji lagi ya?”
Itu kata-katanya, mungkin maksudnya janji ketika aku menyuruh agar Ryuu-sama tidak lagi menampakan diri di depanku. Melihatnya seperti itu aku kembali menangis, rasanya bodoh tanpa sepatah kata apapun aku menunduk mendekati badannya yang kini terkulai lemas. Beberapa pendaharan terjadi di bagian tubuh yang penting. Seluruh tangan kirinya terluka parah dan zanpakutounya, murasaki no chou tertancap tidak jauh dari sana hanya dengan 1 buah gantungan kupu-kupu yang menjadi sumber kekuatannya.
Lalu, tiba-tiba Ryuu-sama memaksa bangun. Aku segera menahannya, “Kondisi anda buruk, biar aku yang menyembuhkannya.”
“Hah…percuma…” ia berkata dengan nada yang sangat kubenci, nada kekalahan.
“Tidak, aku pasti bisa.”
“Jangan lakukan, Touki pasti banyak menguras tenagamu kan?”
Aku berusaha memakai kidou tingkat tinggi, namun efek yang dihasilkan tidak seberapa, regenerasi sel beberapa kali gagal, dan terus gagal. Baru pertama kali chiyudou yang kupakai gagal, entah karena karena Touki yang kulakukan tadi, atau hal lainnya yang membuat tanganku terus bergetar ketika memakainya.
“Seharusnya bisa, anda bisa sembuh…” aku bersikeras untuk menyembuhkannya, kemampuanku tidak begitu buruk dan ini seharusnya berhasil. Seperti apapun usahaku, nampaknya yang terjadi malah lebih buruk dari itu. Ryuu-sama terbatuk beberapa kali dan aliran darah pekat mengalir dari mulutnya yang telah kaku.
Tidak ada yang bisa kulakukan, semuanya tidak berguna, aku takut, sangat takut. Ryuu-sama menahan tanganku yang terus melakukan chiyudo tanpa sepatah katapun. Ia hanya tersenyum lembut seperti biasanya. Kemudian kutaruh kepala Ryuu-sama di atas pangkuanku, selagi ia tersenyum dan seperti biasa pula memainkan rambutku yang sengaja dipanjangkan.
“Maafkan aku,… ini semua salahku…” aku menunduk, menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. “Kenapa anda jadi begini? Kenapa anda nekat menghilang seperti itu?” pertanyaan demi pertanyaan begitu saja terlontar dari mulutku. Aku tidak kuasa menahan tangis, belum pernah kulihat kondisi Ryuu-sama yang separah itu, ia bahkan tidak sanggup menjawab pertanyaanku.
“Kenapa ya, aku merasa hal seperti ini juga pernah terjadi.” Tiba-tiba saja disela tangis dan deru hujan Ryuu-sama berkata.
“Apa maksud anda?”
Ia hanya kembali menunjukkan senyumnya.
“Setelah ini apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.
“Apa? Apa?” aku terus bertanya-tanya, apa yang ia maksudkan sebenarnya.
“Aku lelah, beberapa hari ini tidurku kurang,” Ryuu-sama kembali berbicara. “Tahu kan, berapa jam waktu tidurku…” sedikit tawa mewarnai wajahnya yang semakin memucat.
“Apa yang anda katakan, ini bukan saatnya untuk bercanda!” belum selesai aku berbicara, tiba-tiba saja ia mengangkat tangannya tinggi kemudian menyentuh wajahku.
Aku meraih uluran tangannya, namun ia segera menarik kepalaku mendekati wajahnya, lalu menciumku dengan bibirnya yang mendingin. Itu terakhir kalinya, aku tersentak ketika tangannya yang terulur melemas kemudian jatuh. Kujauhkan wajahku, dan pertama untuk yang terakhir kulihat wajah tidur Ryuu-sama yang begitu tenang.
“Jangan, jangan…” aku mulai gelagapan, rasa takut dan merinding menjalar di sekujur tubuhku. Hujan yang turun semakin deras. “Bangun, ayo bangun…!” aku mengguncang-guncangkan tubuh Ryuu-sama yang masih ada di pangkuanku. Ia tidak bergerak, bukan,…ini bukan tidur, tidak ada gerak napas yang terdengar.
Tidak percaya. Aku tidak percaya, ini pasti mimpi, apa yang terjadi?
Sore hari, langit yang mendung, pemandangan yang mengerikan, dan sosok ‘pangeran’ku yang kini tertidur untuk selamanya.
Aliran air mata tidak pernah berhenti membasahi wajahku. Rasanya tidak kuat, tidak ada pegangan yang mampu menopangku saat ini. Hanya ada suara isak tangisku dan air hujan yang menghantam tanah.
Mengapa semua ini harus terjadi, mengapa aku begitu bodoh, seharusnya kulupakan saja apa yang sudah terjadi dan kami bisa hidup seperti dulu, seperti ketika kami kecil. Aku menyesal, baru pertama kali aku begitu menyesal.
Ku kira tidak ada yang bisa menghentikan aksi nekatku saat itu. Buatku, apa gunanya hidup sendiri, aku menarik flute Koori no Hana yang tersampir di sabuk belakangku.
“Shikai, soko da Koori,” flute itu berubah menjadi pedang sepanjang 75 cm dengan beberapa lilitan kain di pegangannya. Aku menutup mata, tadinya berniat untuk mengakhiri hidup saja namun tarikan tangan seseorang menghentikan segalanya.
“Bodoh! Jangan lakukan itu!”
V-chan menarik tanganku kencang dan seketika Koori no Hana-ku terlempar jauh.
“Lepaskan aku!” aku menarik tanganku yang dipegang erat olehnya. Kami berdiri, aku terus memaksa untuk dilepaskan, namun V-chan lebih kuat dari dugaanku. “Jangan hentikan aku, biar aku mati saja!” aku membentaknya tapi yang V-chan perlihatkan padaku adalah wajah sedihnya seakan ikut berduka.
Ia menarikku, kemudian merangkulku erat. Inilah peganganku, badanku melemas tidak bisa lagi lepas. Untuk yang pertama kalinya aku menangis dengan hebat. Tanganku meremas lengan shikakusho milik V-chan sedangkan kepalaku tidak lepas dari rangkulannya yang begitu kuat.
“Tolong…tolong aku, tolong jangan tinggalkan aku.”
PART IV:
Aku mendengar suara seseorang di tengah deru hujan itu. Tidak begitu jelas, namun ia segera menarikku, memisahkanku dari sosok V-chan.
“Hi…Hiyo-san!”
“Ikut aku, kau ditangkap atas tuduhan pencurian arsip gobantai dan informan para graffiato!”
Hiyo-san menarikku, tatapannya dingin. Di sekeliling kami, beberapa orang yang ‘seharusnya’ ku kenal menatap nanar padaku, tatapan yang paling tidak ingin ku lihat.
Tatapan yang seolah-olah berkata, “Ini semua salahmu!”
Semuanya nampak berkabut, V-chan berusaha menarikku kembali namun Hiyo-san menahanku dengan Tatsumaki-nya. Aku ditarik pergi, tapi tidak ada lagi yang kurasakan saat itu, kaki dan badanku melemas seolah aku tidak kuat menerima semua ini.
“Bangunlah!”
Suara seseorang benar-benar membangunkanku. Aku terikat di satu ruangan, dengan jeruji kayunya dan lantai tatami yang tidak begitu hangat. Hiyo-san kembali menatapku, ia berdiri di balik jeruji itu dengan gagahnya sementara aku kebingungan berada di dalam sini.
Aku tidak ingat apapun, berusaha untuk melupakan yang terjadi saat itu. Namun apa daya, kepalaku tidak terbentur cukup kuat sehingga masih mampu untuk mengingat.
“Sadar dengan kesalahanmu?” Hiyo-san bertanya.
“Salah?” aku mencoba mengingat. Kesalahan, kesalahan yang fatalkah? “Apa anda akan menghukum mati aku?” tiba-tiba saja aku menyahut dengan suara keras.
“Belum diputuskan,” ucapnya.
“Bunuh, bunuh saja aku. Aku bisa mengaku mencuri arsip dari gobantai dan menjadi informan seorang graffiato berambut merah. Katakan itu pada mereka, bilang bunuh saja aku!”
“Penghianat sepertimu tidak pantas jika hanya dibunuh!” Hiyo-san menatapku dengan padangan dingin kemudian pergi tanpa menjelaskan apapun.
Ku kira aku akan dihukum mati, namun nyatanya aku masih hidup. Kejahatan yang kulakukan hanya kejahatan kecil dan sebuah argumen juga kesaksian V-chan membebaskanku dari segalanya. Itu bukan kabar gembira untukku, yang kuinginkan adalah mati…pergi ke tempat di mana Ryuu-sama berada.
“Boleh aku menemuinya?” suara seseorang terdengar dari luar ruangan.
Tempat tahananku berpindah, dari balik jeruji penjara di rokubantai kini aku ditempatkan di ruang perawatan hachibantai karena diduga memiliki gangguan psikologis.
V-chan memasuki ruangan dengan wajah sendunya. Aku hanya melihatnya sekilas kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Katanya kau tidak mau makan?”
Aku tidak menjawabnya, saat itu pikiranku diliputi banyak hal sehingga tidak dapat berpikir dengan jelas. Terkadang aku bisa saja tiba-tiba menangis bahkan berteriak layaknya orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tapi benar, yang kulakukan di sini hanya bertanya, ‘Apa yang terjadi? Di mana Ryuu-sama sekarang? Mengapa kalian membiarkan aku hidup?’
“Kau bisa sakit dengan kondisimu yang sekarang…” V-chan kerap menyuapkan makanan yang langsung kutolak begitu sendoknya menyentuh bibirku.
Hal seperti itu terus berlangsung lama. Bahkan Kishinami Taichou bolak-balik menemuiku untuk memberikan kontrol langsung. Kami berbicara, bukan tapi hanya ia yang bicara, menyuruhku mengingat-ingat tentang banyak hal, hal indah yang bisa membuat semangat hidupku kembali.
Satu hal yang mengubahku adalah ketika V-chan membawaku ke suatu tempat. Tempat peristirahatan terakhir Ryuu-sama dengan pedang Murasaki no Chou yang tertancap di atasnya.
“Tidak ingatkah apa yang menjadi kebahagiaannya?” V-chan bertanya padaku, pertanyaan yang kerap tidak pernah aku jawab.
Ia kemudian membuka telapak tanganku lalu menaruh sesuatu di atasnya. “Penghubung, ya kan?” melihat benda itu, sebuah pita berwarna ungu yang pernah kuberikan pada Ryuu-sama, membuat pandanganku terangkat.
“Ia pasti ingin melihatmu hidup dengan bahagia, makanya menuruti keinginanmu untuk tidak lagi menampakkan diri,” ucap V-chan lagi. Mendengarnya aku teringat sesuatu.
‘Aku janji, selama kita bersama aku pasti akan membuatmu bahagia. Makanya jangan takut, jika aku tidak ada maka pita ini yang akan menjadi penghubung, begitu kan?’ wajahnya tersenyum ketika mengatakan itu. ‘Pokoknya asal langitnya cerah aku akan berbuat apapun untuk itu, jangan menangis lagi atau kau akan menjadi langit mendung yang akan memberikan ketidak pastian pada apa yang akan terjadi.’
Aku tahu, aku kini sadar. Hidup dan bahagiaku adalah janji yang pernah Ryuu-sama ucapkan. Asal aku tetap tersenyum bahagia maka kami akan terus terhubung. Jika ini adalah kehidupan kedua ku, maka aku yakin sebelum dan sesudah ini kami selalu bersama. Takdir yang terhubung antara kami tidak pernah terpisahkan, aku yakin itu.
Kuseka air mataku, kemudian memantapkan diri, ‘Aku akan lebih baik darimu. Akan kutunjukkan apa yang telah kau ubah lagi dari hidupku. Aku menutup rapat kedua tangan dan mataku ketika mengucapkannya dalam hati. ‘Ku mohon berikanlah aku kehidupan sekali lagi,’ aku mencabut pedangnya, V-chan hampir mencegahku yang dikiranya akan beraksi nekat. Tapi kali ini, aku hanya mengangkat rambut panjangku kemudian memotongnya cepat dengan pedang bermata kaca itu. Helaian rambutku yang berjatuhan adalah kisah lama, aku menutup kisah itu namun berjanji tidak akan pernah melupakannya.
Ketika hari terus berganti, waktu terus bergulir, aku akan bertanggung jawab. Pada Arc-san aku berjanji akan menggantikan posisi Ryuu-sama. Aku terus belajar dan melatih ilmu zanzutsuku yang memang sangat payah. Sulit bagiku untuk menjadi pengganti bagi Ryuu-sama sampai aku bisa memasang badge bekasnya di lengan kiri shikakushoku.
Dan saat itu tiba, aku bisa berjalan dengan V-chan dan Hiyo-san yang telah memakai haori kebanggaan mereka dengan lambang divisi masing-masing di punggungnya.
“Sudah lama ya…” V-chan sembarang bergumam.
“Sudah lama apa yang sudah lama maksud anda?” Hiyo-san hanya komentar pertanyaan pendek.
Aku memperhatikan keduanya, sambil menyusup di tengah kemudian ku katakan. “Bagaimana kalau kita main lagi!”
“Main??” ucap keduanya serentak.
“V-chan jadi ibunya, Hiyo-san jadi ayahnya, dan aku anaknya. Kita keluarga Ariake yang bahagia!”
“Tidak!”
“Sora-kun dewasalah sedikit…”
“Sudah lama kan kita tidak main,”
“Itu permainan paling berbahaya. Akan kubuat peraturan larangannya!”
“Hiyo-san pelit ah, sekali-kali kita kan perlu bermain,”
“Ah…kalian ini…”
Itulah sepintas dari kehidupanku, ‘Apakah Ryuu-sama di sana hidup dengan bahagia juga, aku selalu berdoa untukmu setiap waktu, berharap kita akan segera bertemu lagi. Dan, apakah anda bermimpi indah, pangeranku.’
