Endless-Butterfly

ENDLESS-Butterfly

Author: Created by Ca
Note: Gambaran tentang ia ‘pangeranku’ sebelum tertidur untuk selamanya

Lyric taken from Butterfly’s Sleep L’arc~en~Ciel Song

“Eyes delicate like a young girl’s, gone transparent
pale white skin that’s never been defiled
a dress which dances like a butterfly.

even if your secret wishes are never brought to fruition,
in the season when one wishes for eternity,
the lord of the dark discreetly hides his shadow
crooked gears.

Your eyes will never again be graced with visions of a beauftiful dawn,
even if you tie your life up in a bundle and offer it.

Please rise from the dead on earth with my last kiss.

I don’t care if the world is reduced to ash
I don’t care if they scramble around grabbing at everything.
No matter what wish is made, only sadness comes of it.

Forevermore I’ll quietly watch that sleeping face
until the gentle wind which tempts us to sleep
surrounds me.

This love will extend beyond time
I’ll make it bloom before you
living endless nights and mornings
in a land where no one’s hand may reach”

PART I:
Sosok nya mengingatkanku pada seorang anak yang begitu rapuh dan tidak berhenti menangis semalaman suntuk di kala waktu tidurku. Langit yang begitu cerah dibuatnya mendung dengan derai air mata yang tidak juga berhenti mengalir dari matanya yang bening bagai genangan air. Aku banyak mengingat hal yang terjadi di antara kami. Waktu setiap malam di mana kami bersama adalah mimpi indah bagiku, tidak pernah terpikir olehku apa keuntungan yang dapat kuperoleh dari bersamanya.
Namanya adalah Sora, artinya Langit, sang langit yang selalu menangis ketika ada di hadapanku. Jangan kira karena aku yang membuatnya menangis seperti itu, ia menangis bukan karena aku tapi karena kehidupannya di dalam rumah besar yang hanya nampak seperti penjara bagiku.
Hari itu setelah yang kesekian kalinya aku meminta maaf akhirnya ia bisa juga berbicara padaku, “Ku maafkan. Tapi jangan pernah menemuiku lagi!”
Setelah sekian lama, akhirnya Sora mau berbicara terbuka padaku. Aku yang saat itu hanya bisa bersimpuh di hadapannya, menjatuhkan pandangan jauh ke atas tanah berulangkali mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam padanya dalam hati. Walau mungkin Sora hanya menganggapku sebagai orang brengsek yang selalu menyakitinya, tapi perkataannya saat itu seperti sebuah doa bagiku. Aku mengikuti keinginannya, tidak lagi menampakan diri di hadapannya sejak saat itu.

Aku meletakkan badge divisi 7 di mana benda itu adalah lambang dari kedudukan divisi ini di hadapan meja yang penuh dengan berbagai macam kertas.
“Apa ini?” Arc Taichou dengan sejuta panggilan ‘main-main’ku padanya hanya bertanya singkat.
“Aku mengundurkan diri.”
Suasana kemudian hening sejenak, ternyata di ruangan tempat biasa Arc-san menghabiskan waktu dengan setumpuk pekerjaannya, tidak hanya ada aku dan beliau. Shiori-san terpaku di depan pintu yang terbuka lebar dengan wajah penuh tanda tanya. Aku hanya sekilas melihatnya kemudian menunggu kembali respon dari taichouku.
“Kau bercanda Ryuu-fuku,” ucapnya ditambah nada tawa yang sedikit memaksa.
Dengan senyum seperti biasa aku mencoba menghilangkan kebiasaan main-mainku di hadapannya. “Ini serius, aku mengundurkan diri.”
“Kenapa? Ah…aku tahu kau pasti sedang bermimpi lagi, ya kan?” lagi-lagi anggapan seperti itu, di kala aku serius semua menganggapku sedang tidak sadar, dan sebaliknya di kala kesadaranku tidak sepenuhnya mengumpul semua yang ada malah menganggapku serius.
“Aku tidak bermimpi, Taichou. Ku katakan ini serius, aku tidak dapat lagi memegang posisi ini.” Terakhir kalinya aku menundukkan badan di hadapannya kemudian melangkah pergi dari tempat itu. Shiori-san mungkin ingin menghalangi niatku, namun saat melihat wajah pilunya aku teringat akan ia. “Dan Taichou, jika anda tidak keberata, tolong berikan ‘itu padanya’…” pandanganku mengarah pada badge berwarna emas yang baru saja kuletakan di mejanya.
“Kenapa tidak kau saja yang berikan?” nada bicara Arc-san berubah drastis. Ia mungkin marah atau kesal, tidak lagi menatap kepergianku. Aku berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum dengan berat hati.
“Tidak bisa, aku sudah berjanji untuk tidak menemuinya lagi.”
Langkahku berat ketika meninggalkan tempat yang sudah kuanggap sebagai ‘rumah’ di mana terdapat sejuta kenangan yang mustahil bisa aku lupakan.
Pikiranku terus melayang jauh, aku terus berlari, lari, dan lari. Tidak tahu harus ke mana, aku begitu kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa. Yang kuupayakan saat ini hanyalah tidak lagi menampakan diri di hadapan Sora, untuk selamanya.

Langit begitu berat hingga terus meneteskan tetesan air matanya ke tanah. Aku berdiri sendiri bermandikan air dan genangan darah di sekelilingku. Tenagaku mungkin habis terkuras akibat banyaknya para graffiato yang mulai mendekati seireitei. Saat ini yang kulakukan hanya berusaha menjaga apa yang harus kujaga. Aku berkeliling, terus berkeliling dan kerap bersembunyi dari orang-orang yang sepertinya mulai mencariku.
Saat itu hanya ada satu orang yang kuizinkan untuk bisa menemuiku. Seorang gadis blasteran India dengan anting-anting besarnya yang bercahaya di kala hari gelap. Ia mengerudungi kepalaku dengan muffler coklat tebal.
“Kenapa anda nekat begini?” tanyanya singkat namun dengan nada penuh kecemasan.
“Nekat, ah aku hanya sedang bermain. Dan harusnya ini menjadi kebanggaan bagi Dev-chan karena bisa menemaniku.” Aku memanggilnya dengan panggilan ‘khusus’ yang kulakukan itu pada semua orang di seireitei yang kukenal kecuali Sora. Karena aku begitu menyukai nama ‘langit’nya sehingga hanya ia yang kuanggap spesial.
Devani Raj Hikari. Gadis itu membenarkan muffler yang melindungi kepalaku yang basah karena hujan yang terus mengguyur tanah sepanjang hari ini. “Sudah cukup bermainnya, anda kembalilah…”
“Tidak bisa, lagipula Dev-chan sudah janji padaku tidak akan membongkar hal ini kan?” aku terus berbicara padanya, dan kami terus berbicara, saling berbicara, sampai aku tidak sadar bahwa yang selanjutnya kulihat adalah gambaran dari mimpiku yang panjang.

PART II:
Suara gemeresik rerumputan, angin malam yang begitu kencang dan derap langkah kaki tidak beraturan ditambah suara napas yang begitu keras menjadi ciri kedatangannya. Aku dengan sabar menanti di balik pohon besar, kemudian dengan sigap menangkapnya ketika ia melewati tempatku berada.
“Tenang, tenanglah, ini aku…”
“Hosh…hosh, mereka datang, mereka mengejar ayo cepat lari!!”
Sora begitu kecil dan rapuh, dipelukanku ia tidak lebih dari sebuah boneka yang selalu dilanda kekhawatiran, akan adanya orang yang akan menorehkan luka baru di tubuhnya. Ini kami, jauh hari sebelum banyaknya masalah besar yang muncul.
“Ryuu-sama lari!!” ia terus memaksaku untuk bergerak. Namun yang seperti biasa kulakukan saat itu adalah memeriksa tubuhnya, apakah ada luka baru atau ada sesuatu yang menjanggal. Kutemukan pelipisnya yang terus mengucurkan darah dan beberapa luka sayat di leher dan memar di sepanjang tangan. Kelakuan orang-orang di rumah itu benar-benar sangat keterlaluan. Aku tidak pernah mengerti mengapa mereka selalu menyakiti anak ini.
“Lari! Mereka datang!!” suara Sora yang lebih keras menyadarkanku dari lamunan. Kemudian kugenggam tangannya yang kurus. Kami berlari, terus berlari memasuki hutan yang begitu gelapnya. Takut? Tidak kami tidak takut untuk terus menelusuri bagian dalam hutan ini karena hal seperti ini sudah kami lakukan setiap malam, sejak pertama kali kami bertemu.
“Kenapa mereka mengikutimu?” tanyaku sembari terus berlari.
Sora terdiam kemudian mengalihkan pandangannya ke belakang. “Mungkin ibu tahu kebiasaanku keluar setiap malam…”
“Kenapa bisa?”
“Tidak tahu…”
“Ke sini!” kami berbelok dari rute biasanya. Beberapa orang yang bisa dibilang sebagai ‘pengawal’ berhasil kami kelabui. Kemudian terus kutuntun Sora sambil tetap berjalan memasuki hutan.
“Kita mau ke mana?” Sora bertanya dengan nada khawatirnya.
“Ke rumah, tenanglah ini jalan lain. Semoga saja aku tidak lupa.” Aku mencoba tersenyum padanya, seolah berkata tidak akan ada apa-apa lagi setelah ini.
Namun tiba-tiba saja di tengah langkah kecil kami, Sora terjatuh. Ia memegangi kepalanya seakan sedang menahan sakit. Spontan aku langsung mendekatinya, “Kenapa, ada apa, ada yang sakit?”
Ia menggeleng, namun terus meremas bagian rambutnya. “Katakan padaku mana yang sakit?” Sora tidak berbicara, ia tetap sibuk dengan apa yang terjadi di kepalanya. Sementara itu tiba-tiba lagi, terdengar suara derap langkah kaki. Mereka datang, orang-orang itu semakin mendekat. Mau tidak mau aku harus segera membawanya lari.
“Ayo naik!” ku perlihatkan punggungku yang tidak seberapa tegapnya untuk menyuruhnya naik di situ.
Sora menggeleng-geleng. “Tidak mau,” ucapnya. Sikap manjanya kemudian muncul. Berkali-kali kusuruh naik ia hanya berkata tidak mau sambil tetap memegangi kepalanya. Aku jengkel karena anak ini terlalu keras kepala, hal terakhir yang bisa kulakukan adalah memaksanya untuk mau kugendong. Dengan sekuat tenaga aku membopong Sora berlari menuju dapur rumahku, tempat kami biasa bermalam.

Sora kududukkan di atas lantai kayu, badannya yang kecil merapat di sudut tembok. “Kita sudah aman, apa yang terjadi dengan kepalamu?” tanyaku lagi. Lalu aku menyibak helaian rambut yang menutupi dahinya. Aliran darah segar mengalir dari salah satu luka pelipis yang lumayan besar. Aku terkaget, walau saat itu pencahayaan sangat sedikit tapi bisa kurasakan ada sesuatu yang basah dan berbau amis mengalir mengintari wajah Sora yang begitu putih seperti boneka salju.
“Ini tidak apa-apa kok!” ia berujar seakan dirinya benar.
“Apanya yang tidak apa-apa, ini sudah parah. Memangnya kelakuan gila apalagi yang ibu atau kakak-kakakmu lakukan hari ini?” aku mengambil kain dan membasahinya dengan air seadanya. Sambil menunggu jawaban Sora secara perlahan kubasahi luka di pelipisnya.
Sora sedikit bergerak ketika aku melakukan itu. Namun nyatanya ia lebih tahan disakiti secara fisik dibandingkan mentalnya. “Ibu memarahiku seharian, dan kakak hanya tertawa di belakangku.” Ia mulai bercerita, cerita yang mungkin bisa sedikit mengobati luka hatinya.
“Kemudian?” aku memberinya titah untuk melanjutkan cerita.
“Ibu selalu berkata bahwa sebaiknya aku tidak usah ada.” Ia menarik napas sejenak ketika aku mulai mengolesi obat di sekitar lukanya. “Kemudian ibu memukulku, ia memukulku dengan kotak obat yang keras, kemudian menyeretku ke tanah. Aku ingin lari, tapi tidak bisa… ibu selalu menang dariku.”
Ceritanya memang tidak layak untuk dipercaya, namun luka-luka ini cukup membuktikan pada apa yang memang baru saja terjadi.
“Ibu tahu soal Ryuu-sama, ibu tahu kalau kita sering bertemu. Dan ibu bilang bahwa nantinya Ryuu-sama juga pasti meninggalkanku, sama seperti ibuku, Ritsu-nii, ayah dan orang-orang baik yang selalu melindungiku,” Sora berbicara sambil menangis, tiada malam baginya tanpa menangis. Suara tangisannya begitu nyaring sehingga membuat bulu kudukku berdiri.
Belum selesai dengan ceritanya, tiba-tiba saja ibuku memergoki kami berdua di sana. Ia hanya menggeleng kemudian memberikan isyarat agar aku mendekatinya. Aku berdiri kemudian mengikuti ibu masuk ke bagian rumah yang lain.
“Berapa kali aku bilang kan, jangan bawa anak sial itu lagi ke sini!”
“Sora Bu, namanya Sora!” aku mengoreksi panggilan ‘ anak sial’ yang ibu berikan pada sahabat kecilku.
“Terserah apa katamu. Anak itu hanya merepotkan kita, merepotkanmu, mengerti tidak sih. Besok atau malam ini kembalikan ia ke rumahnya, dan jangan bawa ke sini lagi!” ibu memperingatkanku untuk yang kesekian kalinya.
“Terserah ibu juga, pokoknya aku tidak akan menyerahkan Sora pada keluarganya.” Dan sejak saat aku membawa Sora ke rumah setiap malam, hubunganku dan ibu memburuk. Kami sering berdebat hal tidak penting.
Saat itu mungkin ibu sudah habis kesabarannya. Ia lantas melangkahkan kaki menuju dapur dan mendekatkan diri pada Sora yang baru selesai dari masa kekerasannya. Ibu berkelakuan kasar, ia menarik Sora berdiri kemudian menamparnya. Aku kaget, kemudian pertama kalinya aku membentak ibuku sendiri, “Apa yang ibu lakukan?!”
Sementara Sora jatuh tersungkur sembari memegang pipinya yang baru saja kena tamparan ibu.
“Aku tidak akan pernah sudi menerima anak sial sepertimu di rumah ini!” suara teriakan ibu mungkin tersampai langsung pada Sora yang begitu terlihat shock. Kemudian ibu menghilang dari pandangan kami, aku segera mendekati Sora takut sesuatu terjadi padanya. Ternyata benar, mental Sora pasti kembali terluka karena perlakuan ibu tadi.
Ia mulai menunjukkan gejala terparah dari sakitnya, kondisi mentalnya tidak baik, Sora menggelengkan kepaladengan keras kemudian berkata-kata aneh seperti, “Salahku, semua salahku. Aku ini tidak dibutuhkan, buat apa aku di sini…”
Pasti berat baginya untuk menerima kenyataan seperti itu. Aku menariknya ke dalam rangkulanku, Sora masih terus berkata-kata aneh, tapi kutenangkan ia dengan apa yang bisa kulakukan. “Tidak, bukan salahmu, ini semua bukan salahmu!” ucapku tegas, namun nampaknya Sora tidak pernah menggubris ucapanku.
“Ryuu-sama juga, pasti anda tidak membutuhkanku. Anda membenciku!”
Aku terus merangkulnya, mendekapnya hingga badan kecilnya berhenti bergetar. Ini adalah rasa takut yang selalu Sora tunjukkan, ia selalu takut jika dirinya dibuang dan tidak ada lagi yang menganggapnya.
“Tidak, tidak…aku masih di sini, selama aku di sini aku membutuhkanmu. Dengar itu, dengar kan?” Sora meremas lenganku dengan kencang, tangisannya begitu keras dan membasahi wajah serta sebagian pakaianku.
“Bohong, anda bohong!!” Sora terus menyangkal. Aku tahu saat itu dia sedang dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Kondisi mentalnya sedang goyah, dan yang dapat kulakukan saat itu hanyalah memeluknya hingga ia terdiam dan tertidur.
“Aku tidak bohong. Dengar…” seiring dengan perkataanku aku menengadahkan wajah Sora agar ia mau menatapku. “Aku janji, selama kita bersama aku pasti akan membuatmu bahagia. Makanya jangan takut, jika aku tidak ada maka pita ini yang akan menjadi penghubung, begitu kan?” kuperlihatkan padanya pita ungu yang selama ini menjadi penghubung bagi kami berdua. “Pokoknya asal langitnya cerah aku akan berbuat apapun untuk itu, jangan menangis lagi atau kau akan menjadi langit mendung yang akan memberikan ketidak pastian pada apa yang akan terjadi.”
Aku mencoba tersenyum untuknya, pandangan Sora hanya terarah pada mataku. Bola matanya yang bulat, bening seperti air terus menatap mataku. “Percaya kan, padaku?” aku lalu menciumnya, bocah kecil yang rapuh yang ada di hadapanku untuk menghentikan isak tangisnya. Itulah pertama kali saat di mana aku tidak pernah mengerti pada apa yang ada di dalam perasaanku. Keinginanku bukan untuk menguasai Sora seolah ia hanya milikku, yang kuinginkan hanya menjaganya dan membuatnya bahagia. Entah perasaan apa ini, aku hanya ingin melakukan hal itu padanya.

PART III:
Devani-san menyebut-nyebut namaku dengan lantang, “Ryuu-fuku, Ryuu-fuku!!” aku membuka mata, dan hari menjelang siang.
“Um..sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku yang masih belum sepenuhnya sadar.
Devani-san memberiku selembar kertas, “Ini ada di samping anda barusan. Cental 46 sudah menugaskan rokubantai untuk mencari anda sebagai pelaku tindakan kriminal, dan kasus anda sudah ditangani oleh kyubantai. Apa yang harus saya lakukan?” gadis cantik di hadapanku ini nampak sangat kebingungan.
Aku tersenyum, berusaha mengusir rasa bingungnya. Kemudian kuambil secarik kertas yang disodorkannya padaku. Isinya: ‘Adikku tersayang membuatmu begitu gusar, kami akan menghancurkannya jika kau tidak segera bertindak. Gerbang timur menjelang malam. Hikari Ritsuka’
“Hikari…Ritsuka?” aku mencoba mengingat nama itu baik-baik. Hikari adalah nama keluarga Sora saat ia kecil, dan Ritsu…Ritsuka, itu adalah orang baik yang juga sering Sora ceritakan padaku.
Kuberikan muffler yang menutupi sebagian badanku semalam pada Devani-san, “Terima kasih, beritahu siapapun sampaikan maaf dan salam perpisahan dariku. Dan bilang juga, jangan cari aku lagi.” Aku beranjak, kembali menenteng zanpakutouku.
“Tunggu, anda tidak sebaiknya pergi. Kembalilah, kembalilah sebelum kasus ini bertambah besar. Dan…apa maksud salam perpisahan itu?” Devani-san berniat pula menghentikanku. Aku hanya kembali tersenyum seperti biasa, mendekatinya kemudian sedikit member kecupan di keningnya sebagai hadiah perpisahan. “Dev-chan tahu, warna ungu yang indah…” aku hanya membelai rambut dengan high light ungu yang paling kusuka. Kemudian mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.
Terakhir kalinya, aku bertemu dengan rekan sesama Shinigami. Tahun-tahun seireitei begitu panjang dan menyenangkan. Aku bertemu begitu banyak orang dan masih kuingat kejahilan yang kulakukan sepanjang hari untuk merusak jalinan kasih antar pasangan shinigami. Aku juga masih ingat dengan sejuta panggilan sayangku pada setiap orang yang kutemui.
Tai-chan dengan pai apelnya. Ruirui dan Hakucchi dengan ide gila mereka. Soutaicchan yang selalu mengingatkanku akan tugas dan tugas. Kai-taicchan, Nami-Taicchan, dan Harukkun gentle man GHC yang menceriakan suasana. Haruhicchan dan Kenken pasangan shinigami yang selalu langgeng. Gincchan dan semua sanbantai family tempatku bertandang setiap hari. Ukicchan, Hiyohiyo, Vchan-kun, dan orang-orang yang berada di perpustakaan bersama tumpukan bukunya. Idacchou-san dan Kagu-chan yang taat pada aturan dan selalu menatap nanar padaku. Shiori-chan dan semua isi dari shichibantai yang menjadi keluargaku. Kana-chan dan Kae-chan yang begitu polosnya. Rairacchi yang selalu mau menyelesaikan masalahku. Fuurincchan dan seisi juuichibantai yang begitu kuat. Yue-chan yang begitu pelupa dan Hiracchin yang pernah menjadi partnerku. dan Dev-chan yang sangat kupercaya.
Selamat tinggal untuk semuanya, terakhir Sora yang kusayangi, hiduplah dengan bahagia.

“Shikai, Fly in Butterfly!”
Serbuan graffiato di gerbang timur memaksaku untuk memakai kekuatan reiatsu yang selama ini menjadi andalanku. Zanpakutouku terbelah menjadi double katana, begitu kutebaskan ke berbagai arah siluet kupu-kupu merah menghantam lawan yang menjadi sasaran. Aku unggul untuk sementara waktu karena kurasa yang kuhadapi adalah graffiato tingkat rendahan. Namun ternyata aku salah presepsi, yang kulawan bukan graffiatonya, melainkan senjatanya. Seseorang mengendalikan tanah supaya hidup dan menyerangku. Tidak bisa mati, begitu kutebas selalu saja kembali hidup.
Aku tidak tahu siapa yang mengendalikan senjata-senjata hidup ini. Namun yang kurasakan adalah diawasi oleh senyuman penuh rasa senang dari seseorang. Kemudian, aku melihatnya, seorang pria berambut merah yang tersenyum mengawasiku dari jauh. Itu lawanku, aku melakukan shunpo untuk mendekatinya, namun gerakan kami sama cepatnya. Graffiato memang lebih unggul dari shinigami biasa.
“Ara… ‘mantan’ fukutaichou yang melarikan diri kan?” ia menyapaku hangat penuh senyuman licik dan picik.
“Jadi anda yang menjadi biang keladinya?” aku melayani senyumannya dan bersikap lebih ramah sembari terus menyerangnya. Namun tidak berefek karena kami sama-sama kuat, aku terus diserang dengan pasukan tanahnya yang ada di mana-mana.
“Jadi suratku sampai ya?” tanyanya lagi.
“Surat?” surat apa, ingatanku teralih pada surat bertuliskan nama Ritsuka di dalamnya. “Anda Ritsuka-san?” tanyaku. Gerakan kami terhenti.
“Bukan…hanya saja ‘adik’ku yang manis bilang begitu,” ia kembali tersenyum.
“Adik, Sora maksudmu?”
“Kau begitu terpesonanya dengan adikku yah, tapi setelah menghancurkanmu, aku akan menghancurkannya juga dan seisi tempat ini!”
Graffiato ini menyerupai Ritsuka-san, walau mereka jelas berbeda. Ia terus menyerangku tanpa henti. Aku sedikit menjauh, mungkin ini saatnya melakukan itu. “Bankai, Zen no Chou…” kupusatkan perhatianku pada pria berambut merah di hadapanku. Gerakkannya terkunci kemudian saat aku akan menyerangnya tiba-tiba saja.
“Manifestation level two…”
Sebuah bongkahan batu besar menyerangku. Konsentrasiku buyar karena batu itu sedikit melemparku ke tempat lain. Kepalaku agak terluka, tapi yang membuatku lebih kaget adalah graffiato pengguna manifestasi itu.
“Shirai!” ucapku lantang ketika menemukan sosok yang pernah kuanggap sebagai adik kini berdiri di hadapanku sebagai seorang musuh.
Bocah remaja yang hampir mirip denganku itu berkali-kali memunculkan cahaya seperti granat yang meledak tepat di dekatku. “Shirai, kau Shirai kan?”
Ia nampak tidak mendengarku, “Dengarkan aku, Shirai apa yang…”
Sebuah dentuman nyaring terdengar di sekelilingku. Graffiato berambut merah tadi menghilang, yang ada kini tinggal Shirai dan aku yang tidak mungkin melawannya.
Aku berdiri setelah zanpakutouku telah kembali ke wujud shikainya. “Hei, Shirai, jangan katakan kalau kau melupakanku?”
“Aku tidak lupa, nii-san!” seiring dengan ucapannya, bola-bola granatnya terus mendekat menghantamku. Aku tidak mungkin bisa melawan bocah ini, ia sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Kami bertemu ketika Shirai kecil dan aku ditugaskan untuk melaksanakan tugas di tempatnya. Tidak kusangka reiatsuku begitu besar untuk menular padanya.
“Tidak mungkin lupa pada orang yang memberiku kekuatan pembunuh seperti ini.” Shirai sedang dalam puncak emosinya, ia bisa melakukan apapun hingga mencapai manifestasi yang begitu kuat. “Aku membencimu, juga semua ini. Mengapa kau tidak mati saja!!”
Kekuatan ini terlalu besar untuk digunakannya. Aku tidak kuat untuk menahannya, bahkan tidak ada kekuatan yang kumiliki untuk menghentikannya. Sebuah dentuman besar terjadi. Aku terseret di dalamnya, terombang-ambing, terlempar kemudian jatuh.
Jatuh

……
………
Kepalaku begitu sakit juga badan dan kakiku. Telingaku agak sulit untuk mendengar. Yang pertama kali muncul dalam bayanganku adalah sosok Sora yang begitu manis dengan rambut panjangnya yang terurai.
“Ah, sepertinya aku sudah melanggar janji lagi ya?”
Ucapku ketika ia mendekatiku tanpa bisa berkata apa-apa. Kurasa mungkin Sora bahagia, melihatku terpuruk seperti ini. Aku mencoba bangun untuk melihatnya lebih dekat. Akan tetapi Sora menahan gerakku.
“Kondisi anda buruk, biar aku yang menyembuhkannya.”
“Hah…percuma…” tukasku cepat.
“Tidak, aku pasti bisa.”
“Jangan lakukan, Touki pasti banyak menguras tenagamu kan?”
Sora tetap berusaha menyembuhkanku dengan kemampuannya. Tapi percuma, bukan karena hari ini, kondisiku sudah buruk sejak terakhir kali melihatnya. Aku berlari ke mana-mana mencari-cari graffiato yang mungkin menghancurkan seisi tempat in. Melawannya, dan menghabiskan tenaga dengan percuma.
“Seharusnya bisa, anda bisa sembuh…” Sora tetap bersikeras melakukan chiyudounya padaku. Tapi tubuhku memang sudah tidak lagi kuat, begitu terbatuk segumpal darah pekat mengalir dari tenggorokkanku. Mungkin organ dalam tubuhku sudah mulai hancur.
Aku tidak bisa lagi bergerak banyak, Sora menaruh kepalaku di atas pangkuannya. Aku menyukai saat-saat perpisahan seperti ini, di mana setelah sekian lamanya aku bisa dekat dengan Sora dan memainkan rambut peraknya yang panjang.
“Maafkan aku,… ini semua salahku…” Sora mulai menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa anda jadi begini? Kenapa anda nekat menghilang seperti itu?” ia terus bertanya, namun tidak ada satupun pertanyaan yang dapat kumengerti dengan baik.
“Kenapa ya, aku merasa hal seperti ini juga pernah terjadi.” Ucapku tiba-tiba, rasanya ini seperti akhir dari kehidupanku sebelumnya.
“Apa maksud anda?”
Aku hanya tersenyum pasrah
“Setelah ini apa yang terjadi?”
“Apa? Apa?”
“Aku lelah, beberapa hari ini tidurku kurang,” lanjutku sedikit bercanda. “Tahu kan, berapa jam waktu tidurku…”
“Apa yang anda katakan, ini bukan saatnya untuk bercanda!”
Saat itu entah mengapa rasanya Sora begitu jauh dariku. Suaranya tidak terdengar jelas, mungkin aku tuli dan ketika pandanganku kabur yang kuinginkan hanyalah melihat wajahnya lebih dekat. Aku tidak peduli pada apa yang kulakukan. Hanya merasa, Sora begitu hangat jika saja aku bisa bersamanya sekali lagi.
Untuk yang terakhir kali aku memberikan tanda perpisahan, semoga kau akan terus mengingatku. Ingatanku kabur, yang kuingat hanyalah genggaman tangan seseorang dan sesosok shinigami berambut perak dengan senyumnya yang manis membawaku menjauh dari tempat itu, untuk selamanya.

Published in:  on March 3, 2008 at 6:20 am Comments (2)

The URI to TrackBack this entry is: http://osakaontheroad.wordpress.com/2008/03/03/endless-butterfly/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 Comments Leave a comment.

  1. huhuhhuhuhuhuhuuhuu

    Hua!!!!!!!!!!!!!!!

    Sedih banget TT_________TT

    Akhir yang entahlah, tragis atau bagaimana >..<

  2. Sedih desu??
    iyah… ngga rela Ryuu mati hikz .. *entah mau menggila pake chara siapa lgih wekekekek

    uhm…
    hihihi kalo responden bagus nanti ca buat versi orang ketiga tunggalnya *cerita keseluruhan bgini…bgitu… ah~~


Leave a Comment